Global Masih Hadapi Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
Gubernur BI 2026–2031 Destry Damayanti menyatakan ekonomi global masih menghadapi fase higher for longer dengan suku bunga, inflasi, dan imbal hasil obligasi tinggi di negara maju.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 19.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa perekonomian global saat ini berada dalam kondisi yang dikenal sebagai higher for longer, di mana tingkat suku bunga, inflasi, serta imbal hasil obligasi di negara-negara maju tetap berada pada level tinggi lebih lama dari perkiraan awal. Pernyataan ini disampaikannya dalam kesempatan pertama setelah dilantik di Mahkamah Agung, Jakarta, pada Rabu (2/9/2026), sebagai respons atas tren kenaikan global bond yields di Amerika Serikat dan Jepang.
Destry menekankan bahwa kondisi tersebut menjadi pertimbangan krusial dalam merancang kebijakan moneter domestik. Ia menilai bahwa tingginya imbal hasil obligasi, inflasi yang belum mereda, serta suku bunga yang tetap tinggi di pasar global berpotensi menimbulkan tekanan bagi ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, BI akan terus memantau perkembangan eksternal sebagai bagian dari basis kebijakan ke depan.
Dalam menyusun arah kebijakan, Destry menegaskan bahwa stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama. Ia menekankan bahwa bank sentral akan terus menjaga nilai tukar rupiah, kontrol inflasi, dan kesehatan sistem keuangan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Faktor global, menurutnya, akan menjadi bagian penting dalam analisis dan penentuan kebijakan domestik.
Ia juga menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global yang tinggi memperkuat perlunya kebijakan yang responsif dan antisipatif. Dengan demikian, BI akan memastikan kebijakannya tidak hanya menangani isu dalam negeri, tetapi juga mempertimbangkan dampak eksternal yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif atau barrier yang sudah rusak.
9 September 2026

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Penggunaan dua masker, terutama tipe bedah, dinilai bisa meningkatkan perlindungan dari abu vulkanik meski belum ada bukti ilmiah pasti.
9 September 2026

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Pemilik hewan peliharaan di lima provinsi terdampak harus segera lindungi anabul dari paparan abu vulkanik dengan langkah-langkah praktis dan preventif.
9 September 2026

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Langkah tepat saat terpapar abu vulkanik mencakup menjauh dari sumber, membersihkan tubuh dengan hati-hati, dan segera ke dokter jika gejala memburuk.
9 September 2026
Berita Lainnya

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA

Data Ekonomi India Dikritik, Mantan Pejabat Sebut Manipulasi Sistemik
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Empat Lukisan Renoir Raib dari Museum di Prancis
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Rabu, 9 September 2026, 07.33 WITA


