Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Grooming yang Menyamar sebagai Teman

Seorang remaja perempuan di Sulawesi Tenggara mengalami eksploitasi daring setelah berkenalan dengan pria dewasa melalui media sosial, yang memanfaatkan kepercayaan untuk menekan dan mengancam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 18.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Grooming yang Menyamar sebagai Teman
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang remaja berusia 18 tahun asal Sulawesi Tenggara kembali menggambarkan pengalaman traumatis dua tahun lalu, saat ia berusaha mencari teman di dunia maya. Awalnya, percakapan dengan seorang pria dewasa terasa biasa—membahas hobi, sekolah, dan kehidupan sehari-hari. Ia tidak menyadari bahwa kehangatan dalam obrolan itu justru menjadi alat untuk membangun kedekatan emosional secara bertahap.

Perubahan dimulai saat percakapan pindah ke WhatsApp. Mulai dari komentar ringan tentang penampilan, lalu permintaan foto tubuh bagian atas. Ketika menolak, pria itu mulai mengancam akan menyebarkan percakapan jika tidak menuruti permintaan. Ancaman itu berlangsung selama tiga hingga empat hari, menciptakan tekanan psikologis yang berat. Meski kini sudah berusia 18 tahun, saat menceritakan kembali, air matanya kembali berlinang.

Psikolog yang mendampinginya menekankan bahwa bahaya tak selalu datang dalam bentuk ancaman langsung. Banyak pelaku justru memanfaatkan rasa kesepian, kebutuhan akan pengakuan, atau keinginan untuk merasa didengar. Dalam kasus ini, pria dewasa itu sengaja membangun kepercayaan dengan menjadi pendengar aktif, memberi pujian, dan terus hadir—membuat korban merasa aman dan dipahami.

Ketika tekanan semakin besar, remaja itu memilih tidak bercerita kepada orang tuanya karena takut dimarahi. Ia baru berani melapor setelah merasa tidak mampu menanggung beban sendiri. Respons orang tua yang mendengarkan tanpa menyalahkan menjadi kunci pemulihan. Mereka berjanji mendukung, mengganti nomor ponsel, menutup akun, dan memutus semua kontak.

Studi dari lembaga perlindungan anak menunjukkan bahwa sebagian besar korban tidak melaporkan kejadian karena takut dihakimi, merasa malu, atau khawatir mengecewakan keluarga. Dalam konteks ini, penting bagi orang dewasa untuk menanggapi dengan empati—bukan menyalahkan—dan menekankan bahwa korban tidak bersalah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya