Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gubernur Dorong Hilirisasi Berbasis Desa Lewat Inovasi Teknologi

Gubernur Lampung menekankan pentingnya inovasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan menciptakan lapangan kerja melalui pengembangan ekonomi desa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 00.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Gubernur Dorong Hilirisasi Berbasis Desa Lewat Inovasi Teknologi
Foto: Tempo

Kendari, ıNarasikita - Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan perlunya memperkuat riset dan inovasi sains terapan yang berdampak langsung pada penyelesaian persoalan masyarakat. Pernyataan itu disampaikan dalam pembukaan Seminar Nasional IPTEK Terapan yang mengusung tema sinergi inovasi dan transformasi digital dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya pada penciptaan pengetahuan, tetapi pada penerapannya sebagai solusi nyata di tingkat lapangan.

Provinsi Lampung, dengan potensi lahan mencapai 3,3 juta hektare dan populasi 9,6 juta jiwa, memiliki basis ekonomi kuat di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Produksi padi mencapai 3,5 juta ton per tahun, didukung oleh beragam komoditas unggulan seperti jagung, singkong, nanas, kopi, lada, kakao, kelapa sawit, dan karet. Dengan sekitar 1,7 juta petani, kesejahteraan masyarakat sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini tidak boleh mengandalkan pergerakan harga semata. Gubernur menekankan perlunya memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat daya saing daerah melalui hilirisasi komoditas. Banyak produk masih diekspor dalam bentuk bahan mentah, seperti kopi dalam bentuk *green bean*, sehingga nilai tambah dan peluang kerja belum maksimal dimanfaatkan.

Untuk itu, Pemprov Lampung menginisiasi pengembangan hilirisasi yang inklusif, dengan fokus pada kapasitas desa. Salah satu langkah konkret adalah membangun fasilitas pengering (*dryer*) di tingkat desa, diikuti dengan mesin pencetak pakan ternak. Dengan demikian, hasil pertanian dapat diproses lebih lanjut menjadi beras, pakan ayam, dan produk turunan lainnya, sehingga desa tidak hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat produksi dan pengolahan yang mandiri.

Gubernur menekankan bahwa teknologi harus dirancang sesuai dengan ekosistem lokal, bukan dipaksakan. Diperlukan dukungan dari perguruan tinggi, seperti Politeknik Negeri Lampung, dalam mengembangkan alat seperti *dryer*, mesin pencampur (*mixer*), dan mekanisasi pertanian yang terjangkau dan efisien. Selain itu, penguatan sumber daya manusia menjadi kunci, termasuk melalui beasiswa yang mengarah pada pengembangan kapasitas desa. Tujuannya adalah menciptakan generasi muda yang menjadi pelopor inovasi dan penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar pencari pekerjaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya