Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gubernur Papua Tekankan Manfaat Nyata dari Program Cetak Sawah 2026

Gubernur Matius D. Fakhiri menekankan bahwa keberhasilan cetak sawah 2026 diukur dari manfaat nyata bagi petani, bukan sekadar selesainya pembukaan lahan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 07.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Gubernur Papua Tekankan Manfaat Nyata dari Program Cetak Sawah 2026
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menegaskan bahwa program cetak sawah tahun 2026 harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, terutama petani di wilayah setempat. Ia menekankan bahwa pencapaian program tidak boleh dinilai hanya dari jumlah lahan yang telah dibuka, melainkan dari kemampuan lahan tersebut menghasilkan panen yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Dalam pembukaan Rapat Koordinasi Evaluasi dan Addendum Konstruksi Cetak Sawah se-Tanah Papua di Jayapura, Fakhiri menyatakan bahwa program ini merupakan bagian integral dari upaya membangun ketahanan pangan dan kemandirian pangan di provinsi yang kaya potensi lahan. Ia menyoroti pentingnya pengelolaan lahan secara terencana, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan masyarakat lokal.

Menurutnya, kunci keberhasilan bukan hanya terletak pada pembukaan lahan, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur, kualitas konstruksi, ketersediaan air, sarana produksi, serta kesiapan petani dalam mengelola lahan. Ia menekankan bahwa produktivitas harus menjadi fokus utama agar lahan yang telah dibuka dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Fakhiri menegaskan bahwa tidak boleh terjadi kasus di mana pembukaan lahan selesai secara administratif, namun tidak memberikan peningkatan produksi atau kesejahteraan bagi petani. Ia menyerukan evaluasi yang objektif, transparan, dan berbasis data lapangan terhadap semua tahapan proyek, termasuk pekerjaan yang sudah selesai, sedang berjalan, maupun yang mengalami hambatan.

Setiap usulan perubahan atau addendum harus didukung data teknis, dokumentasi lapangan, spesifikasi jelas, dan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia menekankan bahwa pertimbangan kondisi lokal, seperti kesesuaian lahan, aksesibilitas, ketersediaan air, serta kesiapan masyarakat dan petani sebagai penerima manfaat, harus menjadi dasar utama dalam pelaksanaan program.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya