Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Minyak Melonjak ke US$95 Pasca Eskalasi AS-Iran

Harga minyak dunia naik ke level US$95 per barel menyusul serangan saling balik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 12.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Harga Minyak Melonjak ke US$95 Pasca Eskalasi AS-Iran
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga minyak dunia melonjak signifikan pada perdagangan Rabu (2/9), mencapai level US$95,52 per barel untuk kontrak minyak Brent, naik 0,92 persen dari sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat hingga US$91,02 per barel, meningkat 0,89 persen. Kenaikan ini terjadi setelah tensi geopolitik meningkat drastis akibat serangan udara AS terhadap sejumlah target di Iran pada malam sebelumnya, yang langsung dibalas oleh Iran melalui serangan balistik dan operasi pesawat nirawak.

Eskalasi konflik ini merupakan yang paling serius dalam beberapa pekan terakhir, menyusul upaya serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan ancaman terhadap personel militer AS di wilayah tersebut. Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan dilakukan sebagai respons atas tindakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang menurut mereka telah mengancam keamanan jalur maritim strategis. IRGC menyatakan bahwa aksi tersebut akan membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20 persen konsumsi minyak global.

Dalam balasan, Iran melancarkan serangan rudal balistik terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan melakukan serangan udara berbasis drone terhadap fasilitas militer di Bahrain. Militer Yordania melaporkan berhasil menangkis 10 dari 13 rudal yang masuk wilayah udaranya. Sementara itu, pejabat AS menyatakan belum ada laporan korban dari pihak mereka, meski mengakui situasi tetap mengkhawatirkan. Kuwait juga melaporkan respons terhadap aktivitas pesawat nirawak yang dianggap mengancam.

Serangan terbaru ini terjadi sejak akhir pekan lalu dan menandai eskalasi pertama sejak Juli, sekaligus memperburuk ketegangan setelah dua kapal tanker diterjang serangan di dekat Selat Hormuz pada Senin (1/9). Ketidakpastian pasokan minyak mendorong industri energi mencari rute pengiriman alternatif, sementara data dari American Petroleum Institute menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus, serta penurunan 265 ribu barel pada persediaan produk sulingan seperti diesel dan minyak pemanas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya