Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Naik, Gaji Mandek: Strategi Hemat untuk Atasi Tekanan Ekonomi

Masyarakat menghadapi tekanan keuangan akibat kenaikan harga pangan tanpa kenaikan gaji signifikan, dengan upah rata-rata hanya naik 3,08% hingga Rp3,39 juta per bulan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 19.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Harga Naik, Gaji Mandek: Strategi Hemat untuk Atasi Tekanan Ekonomi
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Lonjakan harga bahan pokok terus menggerus daya beli masyarakat, seiring stagnasi pendapatan yang tidak kunjung meningkat. Data dari SP2KP Kemendag menunjukkan harga beras premium naik dari Rp15.546 menjadi Rp15.621 per kilogram, sementara harga daging ayam ras melonjak dari Rp38.408 menjadi Rp40.978 per kilogram dalam periode satu bulan terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi upah yang tetap stagnan, dengan rata-rata gaji buruh mencapai Rp3,39 juta per bulan berdasarkan laporan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS per Mei 2026, hanya mengalami kenaikan 3,08% dibanding Februari 2026.

Dalam situasi seperti ini, para perencana keuangan menekankan pentingnya meninjau kembali pola pengeluaran secara kritis. Salah satu langkah utama adalah memangkas pengeluaran non-esensial seperti jajan makanan kekinian, aktivitas nongkrong, dan langganan layanan digital yang jarang digunakan. Menghindari belanja impulsif akibat promo atau tren juga disarankan sebagai bentuk proteksi terhadap tekanan finansial yang semakin memburuk.

Untuk mengatur keuangan secara lebih terstruktur, dianjurkan menetapkan prioritas pengeluaran berdasarkan skala kebutuhan. Pengeluaran wajib seperti cicilan KPR, listrik, dan biaya pendidikan anak harus diprioritaskan terlebih dahulu. Selanjutnya, alokasi untuk kebutuhan harian seperti makan dan transportasi bisa diatur secara proporsional. Sementara itu, pengeluaran bersifat hiburan atau kemewahan—seperti liburan atau beli gadget baru—dapat ditunda atau dikurangi frekuensinya.

Para ahli juga menekankan pentingnya membangun dana darurat sebelum mempertimbangkan investasi. Jika kondisi keuangan masih ketat, investasi sebaiknya ditunda hingga semua kebutuhan pokok terpenuhi dan dana darurat terisi. Namun, jika masih memungkinkan, tetap dilakukan dengan menyesuaikan porsi sesuai kapasitas. Tujuan utamanya tetap menjaga stabilitas keuangan jangka pendek sekaligus membangun fondasi kebebasan finansial jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya