Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Akhiri Sesi I di Zona Merah, Tekanan Jual Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,80% ke level 6.097 pada akhir sesi pertama perdagangan Kamis, dipicu tekanan jual dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
IHSG Akhiri Sesi I di Zona Merah, Tekanan Jual Menguat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.097,40 pada penutupan sesi pertama perdagangan Kamis (8/10/2026), mengalami penurunan sebesar 49,32 poin atau 0,80%. Meski sempat menguat di awal sesi hingga menyentuh 6.179,09 pada pukul 09.00 hingga 09.30 WIB, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual mulai muncul sekitar pukul 10.00 WIB, menyebabkan indeks terus melemah hingga menyentuh level terendah harian di 6.088,89 sebelum akhirnya rebound tipis menjelang penutupan sesi pertama.

Volume transaksi mencapai 403,94 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp6,015 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 461 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 215 saham yang menguat, dan 287 saham stagnan. Pelemahan indeks dipimpin oleh sektor infrastruktur yang anjlok 2,5%, disusul energi turun 1,5% dan material dasar melemah 1,2%. Beberapa emiten pemberat seperti AMMN, BYAN, BMRI, GOTO, dan BREN menjadi pemicu penurunan signifikan terhadap IHSG.

Sementara itu, saham-saham penopang koreksi seperti ASII, BBCA, APOL, EMAS, dan TLKM berhasil menahan tekanan, meskipun tidak mampu mengangkat indeks secara signifikan. Sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, termasuk penurunan cadangan devisa Indonesia yang masih berada di atas standar internasional, serta rilis data uang primer dalam negeri. Di tingkat global, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis dini hari menjadi sorotan, mengindikasikan sikap hawkish The Fed.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS, khususnya tenor 10 tahun yang sempat mencapai 5,365%—level tertinggi sejak April 2002—menjadi faktor utama pemicu ketegangan pasar. Meski lelang obligasi 10 tahun AS dengan nilai hampir US$40 miliar menunjukkan permintaan kuat (rasio 2,77 kali), hal tersebut justru memperkuat tekanan terhadap aset berkembang seperti saham Indonesia. Di kawasan Asia, bursa Jepang, Korea Selatan, dan Australia juga melemah, mencerminkan dampak global terhadap ekuitas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya