Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Cukup Tanpa Keadilan Sosial

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menekankan pentingnya berpikir berbasis data dan kepemimpinan solutif untuk mengatasi ketimpangan meski ekonomi tumbuh pesat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 17.50 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Pertumbuhan Ekonomi Tidak Cukup Tanpa Keadilan Sosial📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai hampir 35 persen dalam tujuh tahun, dari 1,02 triliun dolar AS pada 2017 menjadi 1,48 triliun dolar AS pada 2024, menunjukkan kemajuan signifikan. Namun, angka ini tidak menutupi realitas sosial yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Bank Dunia (2025), jumlah penduduk miskin dan rentan miskin naik dari 46,1 juta menjadi 49,5 juta orang dalam periode yang sama, sementara penduduk kelas menengah menyusut dari 22,1 juta menjadi 17,4 juta.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum merata. Peningkatan kekayaan hanya dinikmati oleh sekelompok kecil, termasuk kenaikan kekayaan 10 orang terkaya sebesar 153 persen. Menteri menegaskan bahwa pertumbuhan tanpa inklusivitas tidak membawa perubahan nyata bagi rakyat banyak. Ia menyoroti pentingnya mengkaji data secara kritis, bukan hanya melihat angka PDB, tetapi juga dampaknya terhadap kesejahteraan sosial dan distribusi kekayaan.

Ia mengajak mahasiswa sebagai calon pemimpin untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis, berani mengambil peran, serta mampu menyusun argumen berbasis fakta. Dalam setiap keputusan, kata dia, harus ada data yang mendukung. Indonesia kaya secara alam, namun pengelolaan sumber daya tetap menjadi tantangan besar yang perlu ditangani secara strategis dan adil.

Mendikti-saintek menekankan bahwa tantangan saat ini bukan alasan untuk menyerah. Ia mencontohkan negara-negara dengan pendapatan per kapita tinggi yang sebelumnya berada dalam posisi serupa. Generasi muda diminta melihat persoalan bangsa sebagai pekerjaan rumah bersama, yang harus dijawab dengan semangat optimisme dan tindakan nyata. Setiap individu, terlepas dari latar belakang, memiliki ruang untuk berkontribusi dan memperbaiki kondisi.

Dengan semangat “jatuh, bangun, jatuh, bangun”, ia mengimbau mahasiswa untuk terus berjuang demi tujuan besar. Keberhasilan bukan hasil dari keberuntungan semata, melainkan hasil dari ketekunan, ketahanan, dan komitmen terhadap perubahan. Masa depan bukan ditentukan oleh kondisi saat ini, tetapi oleh tindakan yang diambil hari ini.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya