IHSG Terkoreksi 1,03% di Tengah Tekanan Global
Indeks Harga Saham Gabungan turun 63,04 poin atau 1,03% ke level 6.083,68 pada sesi siang Kamis (8/10/2026), dipengaruhi pelemahan sektor infrastruktur dan tekanan imbal hasil obligasi AS.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 15.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan merah pada pertengahan sesi perdagangan Kamis (8/10/2026), menunjukkan penurunan signifikan sebesar 63,04 poin atau 1,03% ke level 6.083,68 pada pukul 13.37 WIB. Volume perdagangan mencapai 413,83 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp6,42 triliun. Penurunan ini didorong oleh kinerja sektor-sektor utama yang mengalami tekanan, terutama infrastruktur yang anjlok 2,9%, diikuti energi turun 1,6% dan material dasar melemah 1,4%.
Saham-saham yang menjadi pemberat utama koreksi meliputi Amman Mineral Internasional (AMMN), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Barito Renewables Energy (BREN), dan Bumi Resources Minerals (BRMS). Sebaliknya, beberapa emiten seperti Astra International (ASII), Bank Central Asia (BBCA), Apollo Global Interactive (APOL), Merdeka Gold Resources (EMAS), dan Vale Indonesia (INCO) berperan sebagai penopang kenaikan indeks.
Sentimen pasar pada hari ini dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, termasuk penurunan cadangan devisa Indonesia meski tetap berada di atas standar internasional, serta rilis data uang primer domestik. Fokus utama beralih ke risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis dini hari, yang mengindikasikan sikap hawkish The Fed. Kenaikan imbal hasil obligasi AS, terutama tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 5,365%, menjadi faktor kunci yang menekan aset berisiko global.
Lelang obligasi AS tenor 10 tahun senilai hampir US$40 miliar menunjukkan permintaan kuat, dengan rasio permintaan mencapai 2,77 kali dari jumlah yang ditawarkan. Yield akhirnya turun ke 5,300%, level tertinggi sejak abad ini, namun tetap menimbulkan tekanan pada pasar keuangan berkembang. Imbal hasil Treasury AS yang tinggi juga berdampak pada nilai tukar rupiah dan minat investor terhadap ekuitas di wilayah Asia, di mana bursa Jepang, Korea Selatan, dan Australia juga mengalami koreksi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Syarat Nasabah Prioritas di Tiga Bank Besar, Minimal Rp1 Miliar
Tiga bank nasional, Mandiri, BRI, dan BNI, menetapkan saldo minimal Rp1 miliar untuk layanan nasabah prioritas, dengan fasilitas eksklusif dan pelayanan khusus.
8 Oktober 2026

OJK Cabut Izin PT Porto Ventura Kapital karena Tak Bisa Disehatkan
OJK mencabut izin usaha PT Porto Ventura Kapital berdasarkan keputusan resmi karena perusahaan dinilai tidak mampu memperbaiki kondisi meski telah diberi waktu perbaikan.
8 Oktober 2026

IHSG Terpuruk ke Level 6.083 Akibat Tekanan Global
Indeks saham domestik turun 1,03% ke 6.083,68 menyusul tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan sentimen moneter global.
8 Oktober 2026

PNM Dorong Pemberdayaan Perempuan Lewat Penerbitan Bond dan Sukuk Sosial
PNM berhasil menghimpun dana Rp2,59 triliun melalui penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk 2026, tercatat oversubscribed 1,73 kali dari target.
8 Oktober 2026
Berita Lainnya

Danantara Resmikan Gabungan 23 Kawasan Industri 5 November 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.43 WITA

Empat BUMN Karya Segera Digabung, Waskita dan WIKA Masih Menunggu Proses
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.42 WITA

Pertamina Perkuat Transisi Energi dengan PLTS, Biofuel, dan Teknologi Penangkapan Karbon
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.41 WITA

Harga Cabai Tembus Rp70 Ribu, Pemerintah Percepat Stabilitas Pasokan
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.41 WITA

Bring Back Tennis Tourney 2026 Hadirkan Kembali Semangat Kompetisi Tenis
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.41 WITA

Tanggul Laut Berbasis Alam Siap Dibangun di Demak Oktober Ini
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.41 WITA

Potongan Ojol Maksimal 8 Persen Resmi Berlaku Mulai Juli 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.41 WITA

Pemerintah Yakin Tumbuh 6 Persen di 2027, Tanggapi Proyeksi Bank Dunia
Kamis, 8 Oktober 2026, 15.41 WITA

