Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 0,25% di Akhir Pekan

Indeks Harga Saham Gabungan turun 16,81 poin atau 0,25% ke level 6.619,67 pada perdagangan Senin (7/9/2026), dipengaruhi tekanan dari sektor keuangan dan aksi jual asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 19.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah 0,25% di Akhir Pekan
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Senin, 7 September 2026, menutup sesi dengan penurunan sebesar 16,81 poin atau 0,25% ke posisi 6.619,67. Pergerakan indeks dimulai dari level 6.652,09, sempat mencapai puncak 6.667,75 sebelum akhirnya terkoreksi hingga menyentuh titik terendah 6.610,93. Volume perdagangan mencapai 35,51 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,67 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 2,12 juta kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 300 menguat, 348 melemah, serta 315 lainnya bergerak datar.

Tekanan utama pada IHSG berasal dari emiten sektor keuangan berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi pemberat utama dengan kontribusi penurunan 9,39 poin, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menekan indeks 7,76 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) sebesar 3,47 poin. Selain itu, emiten seperti Merdeka Gold Resources (EMAS), Maha Properti Indonesia (MPRO), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) turut memberi tekanan masing-masing 2,23, 1,44, dan 1,40 poin.

Di sisi lain, beberapa saham berhasil menjadi penopang utama terhadap pelemahan indeks. Bumi Resources (BUMI) menjadi penguat terbesar dengan kontribusi kenaikan 5,47 poin, diikuti Bayan Resources (BYAN) 3,03 poin, United Tractors (UNTR) 1,81 poin, Adaro Andalan Indonesia (AADI) 1,74 poin, dan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) 1,61 poin. Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi yang paling menguat dengan kenaikan 1,17%, disusul energi (0,54%), industri (0,20%), teknologi (0,03%), konsumer non-primer (0,03%), dan konsumer primer (0,02%). Sementara properti menjadi sektor terlemah dengan pelemahan 0,92%, disusul keuangan (0,89%), utilitas (0,59%), dan bahan baku (0,26%).

Sentimen pasar juga terpengaruh oleh erupsi Gunung Anak Krakatau, yang meningkatkan permintaan terhadap produk kesehatan seperti masker, sehingga mendorong kenaikan sejumlah emiten kesehatan. Di sisi aliran dana, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp424,06 miliar hingga sesi pertama, dengan buy sebesar Rp1,84 triliun dan sell mencapai Rp2,26 triliun. Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan akumulasi asing terbesar, mencapai Rp218,87 miliar, sementara tekanan jual asing paling tinggi terjadi pada Chandra Asri Pacific (TPIA) dengan net sell Rp81,67 miliar, diikuti BBCA (Rp73,14 miliar), CUAN (Rp66,06 miliar), BBRI (Rp65,58 miliar), dan KLBF (Rp60,01 miliar).

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya