Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 1,04% di Sesi Pagi, Tekanan Global dan Kebijakan BI Jadi Faktor

Indeks saham utama turun 66,53 poin ke level 6.308,39 akibat tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan kebijakan suku bunga BI yang tetap stabil.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 15.30 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 8x dibuka
IHSG Melemah 1,04% di Sesi Pagi, Tekanan Global dan Kebijakan BI Jadi Faktor📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, bergerak di zona merah sejak pembukaan pasar. Hingga akhir sesi pertama, indeks berada di posisi 6.308,39, merosot 66,53 poin atau 1,04% dari penutupan harian sebelumnya di 6.374,91. Pergerakan indeks dimulai dengan pelemahan tipis di level 6.364,98, sempat rebound ke 6.368,57 pada awal sesi, namun kembali melemah secara bertahap hingga menyentuh level terendah sekitar 6.306,63. Rentang gerak harian tercatat sekitar 62 poin, menunjukkan volatilitas tinggi di awal perdagangan.

Aktivitas pasar tercatat di volume 15,51 miliar saham atau 155,13 juta lot, berada di bawah rata-rata harian sebesar 17,44 miliar saham, meski perdagangan belum berakhir. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp5 triliun. Penurunan indeks dipimpin oleh sektor material dasar yang turun 1,6%, disusul real estate (-1,2%) dan utilities (-1,1%). Beberapa saham pemberat seperti BBCA, BMRI, AMMN, BYAN, dan BBRI turut menekan pergerakan indeks. Di sisi lain, saham penopang seperti FORU, DSSA, YULE, MDKA, dan DSNG menunjukkan kinerja lebih stabil.

Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75% selama tiga pertemuan berturut-turut menjadi sorotan pasar. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22–23 September 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar yang diproyeksikan oleh delapan dari 11 lembaga survei CNBC Indonesia. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap stabil untuk menjaga stabilitas inflasi dan ekspektasi, meskipun ada tiga institusi yang memperkirakan kenaikan 25 basis poin.

Di kancah global, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi pemicu utama ketegangan pasar. Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007, didorong oleh data ekonomi AS yang kuat, khususnya aktivitas bisnis sektor manufaktur yang tumbuh tercepat sejak Juli 2021. Kenaikan harga energi juga menekan biaya input, memperkuat ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Imbal hasil Treasury 2 tahun naik ke 4,9%, tertinggi sejak 2024, sementara Treasury 5 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007.

Kenaikan imbal hasil global berpotensi menekan pasar keuangan Indonesia melalui kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan meningkatkan beban utang pemerintah. Investor kini menanti respons pasar terhadap kebijakan BI dan rilis data uang beredar, sementara perhatian juga tertuju pada kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya