Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 1,06% di Sesi I, Tekanan Global dan Kebijakan BI Jadi Faktor

Indeks Harga Saham Gabungan turun 67,8 poin ke level 6.307,11 pada sesi perdagangan pertama Kamis, dipengaruhi tekanan imbal hasil obligasi AS dan kebijakan moneter BI yang tetap stabil.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 15.30 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
IHSG Melemah 1,06% di Sesi I, Tekanan Global dan Kebijakan BI Jadi Faktor📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tekanan berat pada sesi perdagangan pertama hari ini, Kamis, 24 September 2026, dengan penutupan sementara di posisi 6.307,11, melemah 67,8 poin atau 1,06% dari penutupan sebelumnya. Pergerakan indeks dimulai dengan penurunan tipis di level 6.364,98, lalu bergerak menurun secara bertahap hingga menyentuh level terendah harian di 6.304,01. Meski sempat terjadi kenaikan singkat di pertengahan sesi, momentum tersebut gagal menstabilkan arah pelemahan. Rentang gerak IHSG sepanjang sesi mencapai sekitar 65 poin, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi di tengah ketidakpastian pasar.

Dari sisi sektor, hanya 184 saham yang menguat, sementara 472 saham mengalami penurunan, dan 307 saham tidak mengalami perubahan harga. Aktivitas perdagangan mencatat volume sekitar 16,32 miliar saham atau 163,19 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5,32 triliun. Kondisi ini menggambarkan dominasi sentimen negatif yang mendominasi pasar saham domestik. Pergerakan indeks berlangsung dalam suasana hati hati, terutama menyusul keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22–23 September 2026.

Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, di mana delapan dari 11 lembaga yang disurvei oleh CNBC Indonesia memperkirakan tidak ada perubahan. BI telah menahan suku bunga selama tiga rapat berturut-turut sejak Juli 2026, setelah kenaikan bertahap dari 4,75% menjadi 5,75% dalam periode Mei–Juni. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap fokus pada stabilitas inflasi dan keseimbangan eksternal, meskipun tekanan ekonomi global terus mengintai.

Di kancah global, imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan lonjakan signifikan, khususnya pada tenor 10 tahun yang mencapai 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini didorong oleh data ekonomi AS yang kuat, termasuk aktivitas bisnis yang tumbuh pesat dan kenaikan harga input akibat lonjakan energi. Yield Treasury 2 tahun melonjak ke 4,9%, tertinggi sejak 2024, sementara yield 5 tahun melampaui angka 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Kenaikan imbal hasil ini berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan biaya pinjaman global, termasuk bagi Indonesia yang tergantung pada pembiayaan utang luar negeri.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya