Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 1 Persen, Tekanan Jual Masih Menghantui

Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,08 persen ke level 6.081 di awal perdagangan, didorong koreksi 437 saham, meski BEI menegaskan penghapusan batas harga minimum tidak menjadi pemicu utama penurunan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 15.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah 1 Persen, Tekanan Jual Masih Menghantui📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (29/9), dibuka di posisi 6.118 dan kemudian merosot ke level 6.081, turun 66,65 poin atau 1,08 persen, sehari setelah penerapan kebijakan tanpa batas harga terendah di pasar reguler dan tunai. Data per pukul 09.05 WIB menunjukkan aktivitas pasar yang menunjukkan dominasi penjualan, dengan 437 saham mengalami koreksi, sementara hanya 134 yang menguat dan 142 lainnya stagnan. Total kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10,717 triliun, dengan volume transaksi mencapai 4,14 miliar saham dan nilai transaksi Rp1,32 triliun dalam 142.688 kali transaksi.

Beberapa analis memperkirakan tekanan penurunan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menyebut IHSG sedang dalam fase koreksi wave a dari wave (x), yang berpotensi mengetes level support 6.088 hingga 6.111. Ia memproyeksikan rentang pergerakan hari ini berada antara 6.041 hingga 6.419, dengan rekomendasi saham AADI, BRPT, PSAB, dan PTRO. Di sisi lain, Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas menilai penembusan level support 6.159 pada hari sebelumnya membuka peluang penurunan lebih dalam, menuju area 6.015–6.029, dengan skenario optimis jika IHSG mampu menembus di bawah 6.015.

Meski demikian, Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah bahwa kebijakan penghapusan batas harga minimum Rp50 menjadi penyebab utama pelemahan indeks. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa penurunan harga saham yang sebelumnya terkunci di Rp50 merupakan proses penyesuaian nilai wajar (fair value), bukan akibat kebijakan baru. Ia menjelaskan bahwa saham-saham tersebut telah lama tidak aktif dan kini sedang menemukan keseimbangan baru melalui mekanisme auto rejection, yang membutuhkan waktu untuk stabil.

Jeffrey menekankan bahwa total bobot 26 saham yang sebelumnya diperdagangkan di harga Rp50 tercatat sebesar 1,91 persen pada 25 September 2026. Penurunan harga antara 8 hingga 14 persen dari saham-saham tersebut berkontribusi terhadap penurunan IHSG sekitar 0,27 persen atau setara 16,707 poin pada 28 September. Ia menegaskan bahwa dampak kebijakan tersebut tidak signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan, karena bobot saham-saham tersebut tergolong kecil dan pergerakannya merupakan bagian dari penyesuaian pasar yang wajar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya