Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah di Level 6.311 Akibat Tekanan Global dan Stabilitas Suku Bunga

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,16% ke posisi 6.311,07, dipengaruhi lonjakan imbal hasil obligasi AS dan keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
IHSG Melemah di Level 6.311 Akibat Tekanan Global dan Stabilitas Suku Bunga📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada sesi siang hari, Kamis (24/9/2026), bergerak di kisaran 6.314 hingga 6.368,57 sebelum akhirnya berada pada level 6.311,07. Penurunan sebesar 63,84 poin atau 0,16% terjadi menjelang akhir sesi I, menandai koreksi setelah kenaikan signifikan pada perdagangan sebelumnya. Hanya 181 saham yang menguat, sementara 469 saham melemah dan 313 saham bergerak datar. Nilai transaksi mencapai Rp5,631 triliun dengan volume perdagangan mencapai 16,48 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 863.100 kali.

Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% menjadi sorotan utama pasar. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22–23 September 2026 memutuskan tidak melakukan perubahan, mempertahankan Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, sebagaimana tercermin dari hasil polling terhadap 11 institusi, di mana delapan di antaranya memperkirakan tidak ada perubahan. Dengan ini, BI telah menahan suku bunga selama tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026.

Di sisi global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan tajam, terutama pada tenor 10 tahun yang melonjak ke level 5,11%, tertinggi sejak 2007. Kenaikan sebesar 15 basis poin terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan kecepatan tercepat sejak Juli 2021, didorong oleh kenaikan biaya input, khususnya dari harga energi. Lonjakan ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, yang berdampak pada pergerakan imbal hasil global.

Yield Treasury 30 tahun naik 11 basis poin menjadi 5,4%, mencapai level tertinggi tahun ini dan tertinggi sejak 2007 dalam posisi intraday. Sementara itu, yield 2 tahun melonjak ke 4,9%, tertinggi sejak 2024, dan yield 5 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Kenaikan ini mengindikasikan peningkatan ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat di AS. Tekanan tersebut berpotensi memperkuat arus modal keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia, serta menaikkan biaya pinjaman pemerintah melalui Surat Berharga Negara (SBN).

Pasar dalam negeri kini berfokus pada perkembangan kebijakan moneter global, rilis data uang beredar, serta aturan baru dalam perdagangan saham. Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS juga menjadi perhatian sebagai faktor geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Dengan kondisi imbal hasil global yang tinggi dan kebijakan BI yang stabil, IHSG berpotensi mengalami volatilitas lebih lanjut dalam waktu dekat, terutama jika tekanan dari yield AS terus berlanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya