Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah di Sesi I, BYAN Jadi Penekan Utama

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,55% menjadi 6.158,78 pada penutupan Sesi I, didorong tekanan jual dan kinerja saham emiten utama seperti BYAN.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 09.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
IHSG Melemah di Sesi I, BYAN Jadi Penekan Utama📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada sesi pertama perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, menutup sesi pukul 12.00 WIB di level 6.158,78. Penurunan sebesar 34,14 poin atau 0,55% ini terjadi setelah awal perdagangan yang sempat menguat ke posisi 6.210,42 dan menyentuh titik tertinggi sementara di 6.214,76. Namun, kenaikan tersebut tak bertahan lama karena tekanan jual mulai muncul, menggeser indeks ke zona merah dan menekan level terendah harian di 6.146,02.

Pergerakan indeks berlanjut dalam rentang sempit sekitar 6.150 hingga 6.170 menjelang siang, menunjukkan konsolidasi pasar yang tidak stabil. Dari total 913 saham yang tercatat, 357 mengalami penurunan harga, 329 stagnan, dan hanya 227 yang mampu menguat. Sektor energi menjadi penyumbang pelemahan terbesar dengan penurunan 2,4%, disusul properti turun 1,4% dan infrastruktur melemah 1,1%.

Saham-saham yang menjadi beban utama penurunan IHSG antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT United Tractors Tbk (UNTR), serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Sebaliknya, emiten seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), dan PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) menjadi penopang koreksi pasar.

Volume perdagangan mencapai 212,49 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp4,77 triliun. Sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, termasuk defisit perdagangan AS yang melebar, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik. Investor kini menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia untuk menilai kesehatan eksternal dan stabilitas rupiah. Selain itu, risalah rapat FOMC September yang akan dirilis dini hari besok menjadi kunci, karena berpotensi mengubah ekspektasi kebijakan moneter global dan memengaruhi aset berisiko.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya