IHSG Melemah di Sesi I, BYAN Jadi Penekan Utama
Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,55% menjadi 6.158,78 pada penutupan Sesi I, didorong tekanan jual dan kinerja saham emiten utama seperti BYAN.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 09.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada sesi pertama perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, menutup sesi pukul 12.00 WIB di level 6.158,78. Penurunan sebesar 34,14 poin atau 0,55% ini terjadi setelah awal perdagangan yang sempat menguat ke posisi 6.210,42 dan menyentuh titik tertinggi sementara di 6.214,76. Namun, kenaikan tersebut tak bertahan lama karena tekanan jual mulai muncul, menggeser indeks ke zona merah dan menekan level terendah harian di 6.146,02.
Pergerakan indeks berlanjut dalam rentang sempit sekitar 6.150 hingga 6.170 menjelang siang, menunjukkan konsolidasi pasar yang tidak stabil. Dari total 913 saham yang tercatat, 357 mengalami penurunan harga, 329 stagnan, dan hanya 227 yang mampu menguat. Sektor energi menjadi penyumbang pelemahan terbesar dengan penurunan 2,4%, disusul properti turun 1,4% dan infrastruktur melemah 1,1%.
Saham-saham yang menjadi beban utama penurunan IHSG antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT United Tractors Tbk (UNTR), serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Sebaliknya, emiten seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), dan PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) menjadi penopang koreksi pasar.
Volume perdagangan mencapai 212,49 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp4,77 triliun. Sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, termasuk defisit perdagangan AS yang melebar, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik. Investor kini menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia untuk menilai kesehatan eksternal dan stabilitas rupiah. Selain itu, risalah rapat FOMC September yang akan dirilis dini hari besok menjadi kunci, karena berpotensi mengubah ekspektasi kebijakan moneter global dan memengaruhi aset berisiko.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Swasta Diperkuat, Hambatan Investasi Diselesaikan Langsung
Pemerintah fokus atasi bottleneck yang menghambat investasi swasta dan perluas akses ekonomi rakyat melalui pendampingan dan kebijakan terintegrasi.
8 Oktober 2026

Pemerintah Siapkan Stimulus Tiket Pesawat Nataru 2026–2027
Pemerintah kembali akan memberikan insentif pajak berupa pembebasan PPN DTP untuk menekan harga tiket pesawat pada periode Natal dan Tahun Baru 2026–2027.
8 Oktober 2026

Pembebasan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Dorong Efisiensi Operasional
Pemerintah berikan insentif bea masuk 0% untuk suku cadang pesawat, berdampak langsung pada penghematan operasional maskapai hingga Rp640 miliar dan industri MRO Rp431 miliar pada 2025.
8 Oktober 2026

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham POLA dan CSMI
Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham POLA dan CSMI untuk menstabilkan pasar dan melindungi investor dari volatilitas tinggi.
8 Oktober 2026
Berita Lainnya

Trump Sambut Kerja Sama Militer Turki-Pakistan untuk Arab Saudi
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

UU Perlindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Larangan Tahan Ijazah Jadi Sorotan
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

Jaguar Meluncurkan Type 01, Mobil Listrik Mewah dengan Jarak Tempuh 724 Km
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Harga LPG Subsidi 3 Kg Tetap Stabil di Oktober 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Investasi Rp3,6 Triliun ke Migas AS, ENRG Perluas Portofolio Global
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Dana Haji Tetap Stabil, BPKH Tegaskan Tidak Akan Habis 2027
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Cadangan Devisa Indonesia Tetap Terjaga di Angka US$146,3 Miliar
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Pertumbuhan Uang Primer Turun di September 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.16 WITA

