Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah di Sesi I, Tekanan dari Kebijakan Baru dan Volatilitas Global

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,21% pada penutupan sesi I, disebabkan tekanan jual, perubahan kebijakan BEI, dan tekanan eksternal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah di Sesi I, Tekanan dari Kebijakan Baru dan Volatilitas Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, menurun 12,86 poin atau 0,21% ke level 6.135. Gerakan indeks dimulai dengan pembukaan di posisi 6.118,81, lebih rendah dibanding penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan jual langsung muncul sejak awal sesi, menggerakkan indeks menuju titik terendah harian di 6.013,08 pada pukul 09.30 WIB.

Pasar kemudian menunjukkan perbaikan bertahap, dengan indeks bergerak naik secara stabil dan berkonsolidasi di kisaran 6.040 hingga 6.100 sekitar pukul 10.00 WIB. Pada pukul 11.00 WIB, IHSG sempat mencapai level tertinggi harian di 6.150,55, sedikit melampaui posisi penutupan sebelumnya. Namun, aksi ambil untung menghambat penguatan lebih lanjut, sehingga indeks kembali terkoreksi tipis dan menutup sesi di zona merah.

Pergerakan volatil ini tercermin dari rentang harian yang cukup lebar, mencapai 137 poin, menunjukkan ketidakpastian pasar. Volume perdagangan mencapai 231 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp7,34 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 451 saham mengalami penurunan, 262 saham stagnan, dan hanya 250 saham yang menguat.

Kemunduran IHSG terjadi seiring diberlakukannya kebijakan baru oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk penurunan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai, mulai 28 September 2026. Penyesuaian ini disertai penyesuaian batas auto rejection: untuk saham Rp1–Rp10, batas ARA dan ARB ditetapkan sebesar Rp1, sementara ARB asimetris 15% tetap berlaku untuk saham di atas Rp10 hingga akhir 2026. Tujuan kebijakan ini adalah memperluas akses, meningkatkan kualitas price discovery, dan mendorong likuiditas pasar.

Di sisi eksternal, pasar domestik tetap terpengaruh oleh kondisi global yang menegang. Penguatan dolar AS, kebijakan moneter global yang lebih ketat, kenaikan harga energi, serta suku bunga tinggi masih menjadi faktor pemicu volatilitas pasar keuangan negara berkembang. Rupiah juga melemah terhadap dolar AS pada awal pekan, menambah tekanan terhadap pasar modal dalam negeri.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya