IHSG Melemah ke 6.146, 378 Saham Terkoreksi
Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,75% ke level 6.146 pada penutupan perdagangan Rabu, didorong koreksi luas di sektor energi dan tekanan pasar global.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.19 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di posisi 6.146 pada akhir perdagangan Rabu (7/10), mengalami penurunan sebesar 46,20 poin atau 0,75% dibandingkan penutupan sebelumnya. Gerakan negatif ini mencerminkan tekanan di pasar modal yang dipengaruhi oleh kondisi global dan pergerakan sektor utama. Total nilai transaksi mencapai Rp36,20 triliun dengan volume perdagangan mencapai 48,41 miliar saham, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi meski berada dalam tren pelemahan.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 258 menguat, 378 mengalami penurunan harga, dan 157 lainnya stagnan. Dominasi penurunan terjadi di sebagian besar sektor, dengan 10 dari 11 sektor mengalami koreksi. Sektor energi menjadi pemicu utama pelemahan, turun 1,48% dan menjadi sektor terburuk dalam pergerakan hari ini. Hanya sektor keuangan yang berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04%, menjadi satu-satunya sektor yang menguat di tengah tekanan umum.
Di tingkat regional, bursa saham Asia mayoritas bergerak merah. Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong turun 0,62%, sementara Nikkei 225 di Jepang melemah 0,92%. Indeks Straits Times di Singapura juga terkoreksi 1,54%. Di sisi lain, indeks Shanghai Composite di Tiongkok menunjukkan penguatan sebesar 0,31%. Di Eropa, pasar kebanyakan mengalami penurunan, dengan DAX Jerman turun 0,45% dan FTSE 100 Inggris melemah 0,15%.
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan positif, dengan Dow Jones naik 0,49%, S&P 500 meningkat 0,58%, dan NASDAQ Composite menguat 0,45%. Perbedaan tren ini menunjukkan perbedaan dinamika ekonomi antar benua, di mana pasar AS masih mendapat dukungan dari sentimen positif, sementara pasar Asia dan Eropa terpapar tekanan dari volatilitas global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Kaya Gas, Tapi Masih Impor LPG
Kekayaan gas alam Indonesia tidak menyebabkan penghentian impor LPG karena keterbatasan komposisi gas bumi yang tidak sesuai untuk produksi LPG domestik.
7 Oktober 2026

IMF Beri Pinjaman US$189 Juta untuk Atasi Krisis Ekonomi Papua Nugini
Dana Moneter Internasional menyetujui bantuan keuangan sebesar US$189 juta kepada Papua Nugini untuk menopang stabilitas ekonomi di tengah tekanan dari stagnasi produksi LNG dan dampak iklim.
7 Oktober 2026

LPS Siapkan Aturan Baru Biaya Operasional Berbasis Kinerja 2027
LPS menyusun peraturan baru untuk standar biaya operasional berbasis kinerja, menggantikan sistem berbasis masukan, mulai tahun 2027 sesuai amanat UU P2SK.
7 Oktober 2026

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Dolar AS Berada di Rp17.875
Nilai tukar rupiah berakhir di Rp17.875 per dolar AS, menguat sedikit dari posisi sebelumnya, seiring tekanan eksternal dan pergerakan cadangan devisa BI.
7 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Center AI Harus Seimbangkan Kebutuhan Publik dan Digital
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Haji 2027: Biaya Pelunasan Turun Jadi Rp23 Juta Berkat Subsidi
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Indonesia Siap Raih Ekspor Nikel US$40 Miliar pada 2026
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

550 WNI Ditahan di Kamboja Usai Operasi Anti-Penipuan Online
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Mendagri Hadiri Taklimat Presiden untuk Perwira Tinggi TNI-Polri
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

Pemerintah Tegas Atur Penggunaan Kontraktor Lokal di Sektor Pertambangan
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

Ibu Rumah Tangga Palembang Kembangkan Usaha dari Modal Rp2 Juta
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

IPOT X Revolusi Baru di Dunia Investasi Berbasis AI
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

