Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat di Pembukaan, Didorong Sentimen Global

Indeks saham utama Indonesia naik 0,24% ke level 6.652 pada awal perdagangan Senin, dipengaruhi dinamika pasar global dan data ekonomi domestik yang dipantau ketat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Menguat di Pembukaan, Didorong Sentimen Global
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Senin (7/9/2026) dengan kenaikan signifikan, melompat 15,61 poin atau 0,24% ke posisi 6.652,09. Pergerakan awal ini menunjukkan sentimen positif meski sempat mengalami tekanan tiga menit setelah pembukaan, ketika indeks sempat turun ke level terendah 6.626,92 sebelum rebound. Puncak sementara tercatat di 6.662,61 sebelum stabil di level akhir sesi awal.

Dari sisi sektor, sebanyak 231 saham menguat, 108 saham melemah, dan 351 saham berada dalam kondisi stagnan. Volume perdagangan pada awal sesi mencapai 401,57 juta lembar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 277,41 miliar, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup aktif meski masih dalam batas moderat.

Pekan ini diproyeksikan menjadi periode krusial bagi pasar modal Indonesia, mengingat sejumlah data penting akan dirilis, baik dari dalam negeri maupun global. Fokus utama terpusat pada cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen, dan tren penjualan eceran di dalam negeri. Di sisi eksternal, pasar akan menantikan data inflasi AS, keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB), serta perkembangan ekonomi China, yang berpotensi memengaruhi arah rupiah dan arus modal asing.

Di tingkat regional, pasar saham Asia-Pasifik secara umum bergerak positif pada awal perdagangan. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat hampir 1%, sementara Topix naik 0,55%. Korea Selatan mencatat lonjakan signifikan dengan Kospi melonjak 3,09%, sedangkan Kosdaq kecil naik 1,33%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak datar. Kenaikan regional sebagian besar didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu pergerakan risk-on di pasar keuangan global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya