Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Merosot Tajam ke Level Terendah 3 Bulan

Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 2,59% ke 5.975,78, menyentuh posisi terendah dalam tiga bulan terakhir akibat tekanan jual luas dan koreksi di seluruh sektor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 23.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Merosot Tajam ke Level Terendah 3 Bulan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (12/10/2026) dengan penurunan signifikan, merosot 157,61 poin atau 2,59% ke level 5.975,78. Penurunan ini terjadi setelah indeks sempat menguat di awal sesi hingga menyentuh puncak harian di 6.128,72, namun kembali melemah dan bergerak dalam zona merah hingga akhir perdagangan. Pada penutupan, IHSG menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir, yakni 5.917,51, menandai pelemahan berkelanjutan dalam tren bearish yang telah berlangsung selama 21 hari perdagangan terakhir.

Dalam periode tersebut, IHSG hanya mampu menguat dalam enam sesi, sementara 15 sesi lainnya berakhir di zona negatif. Dalam sepekan terakhir, indeks melemah 3%, turun 9,16% dalam sebulan, terkoreksi 16,29% dalam enam bulan terakhir, dan anjlok hingga 31,35% sejak awal tahun. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan jual yang merata di seluruh sektor pasar modal, dengan sektor utilitas menjadi yang paling terdampak, anjlok hampir 10%. Sektor lainnya seperti energi, material dasar, dan industri juga mengalami koreksi tajam, masing-masing turun 5,80%, 3,87%, dan 2,53%.

Saham-saham utama turut menjadi pemicu penurunan indeks. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pemberat utama, turun 15,72 poin ke level Rp965 per saham. Diikuti oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menyumbang penurunan 12,04 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kontribusi 9,11 poin, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang turun 8,63 poin. Sementara itu, saham-saham penopang seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berhasil menunjukkan kekuatan dengan menguat, meski tidak mampu menahan tekanan keseluruhan pasar.

Arah pasar dipengaruhi oleh berbagai sentimen global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di mana langkah AS yang dipertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman menimbulkan kekhawatiran meluasnya konflik. Di sisi lain, pasar menantikan rilis data ekonomi kunci seperti inflasi AS dan China, serta pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, yang berlangsung 12–18 Oktober. Dalam konteks domestik, sentimen pasar relatif datar, namun peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dikhawatirkan memicu volatilitas politik yang berdampak pada kepercayaan investor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya