Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk ke 6.031, Tekanan Global Picu Aksi Jual Masif

Indeks saham nasional turun 1,88% ke level 6.031 akibat tekanan jual luas dan sentimen eksternal, didukung kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 17.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
IHSG Terpuruk ke 6.031, Tekanan Global Picu Aksi Jual Masif📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari Kamis (8/10/2026) dengan penurunan signifikan, berada di posisi 6.031,28. Penurunan sebesar 115,44 poin atau 1,88% ini terjadi setelah indeks sempat menguat di awal sesi, membuka perdagangan pada level 6.154,97 dan sempat menyentuh puncak harian di 6.179,09. Namun, penguatan tersebut tak bertahan lama, lantaran tekanan jual mulai muncul sejak pukul 10.00 WIB, menekan indeks ke bawah level 6.120.

Pergerakan IHSG terus melemah hingga sesi kedua, dengan penurunan bertahap yang menembus level psikologis 6.100. Menjelang penutupan, indeks bergerak di kisaran 6.040 hingga 6.060, sebelum akhirnya merosot ke titik terendah harian di 6.031,28. Rentang fluktuasi hari ini berkisar antara 6.179,09 (tertinggi) dan 6.031,28 (terendah), menunjukkan volatilitas tinggi di tengah sentimen pasar yang lesu. Total volume transaksi mencapai 567,04 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp11,256 triliun.

Dari sisi sektor, lima ratus delapan belas saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 187 saham yang menguat. Sejumlah sektor utama menjadi penyumbang utama pelemahan, termasuk infrastruktur yang turun 5%, energi melemah 2,7%, dan material dasar turun 2,6%. Saham-saham yang paling menekan indeks antara lain BBRI, AMMN, BMRI, BREN, dan BRMS. Di sisi lain, saham penopang seperti AMRT, KLBF, ASII, BELI, dan APOL berhasil menahan tekanan dan mencegah penurunan lebih dalam.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, termasuk rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sikap hawkish The Fed, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,365%, level tertinggi sejak April 2002, meski kemudian turun ke 5,30% setelah lelang obligasi senilai hampir US$40 miliar yang menarik permintaan kuat. Permintaan investor terhadap surat utang AS mencapai rasio 2,77 kali jumlah yang ditawarkan, menunjukkan minat tinggi meski imbal hasil tinggi. Tekanan ini berdampak pada pasar berkembang seperti Indonesia, yang menghadapi tekanan terhadap aset ekuitas dan nilai tukar.

Bursa Asia lainnya juga terpukul, dengan Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, Kospi Korea Selatan melemah 0,35%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,4%. Pergerakan ini menunjukkan keterkaitan erat antar pasar saham global, terutama dalam konteks kenaikan imbal hasil obligasi AS dan arah kebijakan moneter global yang berdampak pada arus modal dan preferensi risiko investor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya