Impor Pangan Ancam Kesejahteraan Petani dan Swasembada Nasional
Ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan, termasuk beras 4,5 juta ton tahun 2024, berdampak langsung pada menurunnya kesejahteraan petani dan melemahnya ketahanan pangan nasional.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 17.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kementerian Koordinator Bidang Pangan menegaskan bahwa ketergantungan tinggi terhadap impor bahan pangan bukan sekadar isu logistik, melainkan persoalan strategis yang berpotensi memperparah kemiskinan dan melemahkan sektor pertanian dalam jangka panjang. Dalam paparannya, Menteri Zulkifli Hasan menyebut bahwa impor beras sebanyak 4,5 juta ton pada 2024 mengindikasikan kegagalan sistem pangan dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri. Ia menekankan bahwa ketiadaan pasokan beras impor pun akan memicu krisis sosial yang luas, terutama di kalangan masyarakat rentan.
Kondisi ini, menurut Zulhas, tidak terlepas dari dinamika harga yang tidak menguntungkan bagi petani. Ketika harga beras dipertahankan untuk menekan inflasi, petani justru mengalami kerugian karena tidak mampu menutup biaya produksi. Akibatnya, banyak petani memilih menyerah dan menjual lahan pertanian milik keluarga. Fenomena ini berdampak generasi berikutnya, di mana anak-anak petani tidak lagi memilih bertani karena dianggap tidak menguntungkan dan tidak menjamin kehidupan layak.
Nilai Tukar Petani (NTP) yang berada di kisaran 115 pada 2024 menjadi indikator nyata bahwa pendapatan petani belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam konteks ini, pemerintah terpaksa menyalurkan bantuan sosial kepada 60 hingga 70 juta orang, terutama dari desil 1 hingga 4, baik berupa beras maupun bantuan tunai. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan yang lemah memicu ketergantungan pada subsidi, bukan pada produksi dalam negeri yang berkelanjutan.
Ketergantungan impor tidak hanya terjadi pada beras, tetapi juga meluas ke komoditas strategis lain seperti gula putih (6 juta ton), kedelai (4 juta ton), gandum (13 juta ton), dan daging sapi (1 juta ekor per tahun). Zulhas menegaskan bahwa menganggap impor sebagai hal biasa adalah kesalahan besar. Ia mengingatkan bahwa swasembada pangan bukan sekadar kebutuhan, melainkan kehormatan bangsa, yang harus dipertahankan demi keberlangsungan keluarga, petani, nelayan, dan peternak yang jumlahnya lebih dari 100 juta jiwa.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


