Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

India Tumbuh 7,8% di Kuartal II, Tahan Gejolak Global

Perekonomian India tumbuh 7,8% pada kuartal kedua 2026, melampaui ekspektasi pasar, didorong kuatnya sektor jasa, keuangan, dan manufaktur meski pertanian lesu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 13.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
India Tumbuh 7,8% di Kuartal II, Tahan Gejolak Global
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ekonomi India mencatat pertumbuhan sebesar 7,8% pada kuartal kedua tahun 2026, angka yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 7,1%. Data ini dirilis oleh kementerian terkait dan menunjukkan ketahanan ekonomi meski di tengah tekanan global yang terus berlanjut. Kinerja positif ini didukung dominasi sektor jasa, termasuk layanan profesional, teknologi informasi, dan real estat, yang mampu mempertahankan momentum pertumbuhan meskipun sektor pertanian mengalami stagnasi.

Peningkatan signifikan juga terjadi di sektor manufaktur dan penjualan mobil, yang mencerminkan permintaan domestik yang tetap kuat. Kondisi ini diperkuat oleh tren pinjaman yang stabil dan aktivitas konsumsi yang kokoh, menunjukkan daya beli masyarakat yang masih terjaga. Meski demikian, otoritas moneter nasional mengingatkan bahwa pertumbuhan secara keseluruhan diperkirakan akan melambat pada tahun keuangan yang berakhir Maret 2027, dengan proyeksi pertumbuhan 6,7%.

Bank sentral India menyoroti risiko iklim ekstrem, khususnya dampak El Nino yang berpotensi mengganggu pola hujan monsun barat daya. Ketidakpastian curah hujan ini dapat menurunkan hasil panen dan melemahkan permintaan di wilayah pedesaan, yang berdampak pada ekonomi nasional secara keseluruhan. Selain itu, tekanan dari harga energi global dan ketidakpastian rantai pasokan tetap menjadi tantangan utama yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.

Inflasi India terus bergerak naik selama sembilan bulan berturut-turut dan mencapai 4,45% pada Juli 2026. Meski begitu, bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa penyesuaian di bulan Agustus, berbeda dari kebijakan beberapa negara Asia lain yang memperketat moneter. Keputusan ini menunjukkan kebijakan yang konsisten dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Tonton Videonya

Berita Terkait

Berita Lainnya