India Tumbuh 7,8% di Kuartal II, Tahan Gejolak Global
Perekonomian India tumbuh 7,8% pada kuartal kedua 2026, melampaui ekspektasi pasar, didorong kuatnya sektor jasa, keuangan, dan manufaktur meski pertanian lesu.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 13.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Ekonomi India mencatat pertumbuhan sebesar 7,8% pada kuartal kedua tahun 2026, angka yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 7,1%. Data ini dirilis oleh kementerian terkait dan menunjukkan ketahanan ekonomi meski di tengah tekanan global yang terus berlanjut. Kinerja positif ini didukung dominasi sektor jasa, termasuk layanan profesional, teknologi informasi, dan real estat, yang mampu mempertahankan momentum pertumbuhan meskipun sektor pertanian mengalami stagnasi.
Peningkatan signifikan juga terjadi di sektor manufaktur dan penjualan mobil, yang mencerminkan permintaan domestik yang tetap kuat. Kondisi ini diperkuat oleh tren pinjaman yang stabil dan aktivitas konsumsi yang kokoh, menunjukkan daya beli masyarakat yang masih terjaga. Meski demikian, otoritas moneter nasional mengingatkan bahwa pertumbuhan secara keseluruhan diperkirakan akan melambat pada tahun keuangan yang berakhir Maret 2027, dengan proyeksi pertumbuhan 6,7%.
Bank sentral India menyoroti risiko iklim ekstrem, khususnya dampak El Nino yang berpotensi mengganggu pola hujan monsun barat daya. Ketidakpastian curah hujan ini dapat menurunkan hasil panen dan melemahkan permintaan di wilayah pedesaan, yang berdampak pada ekonomi nasional secara keseluruhan. Selain itu, tekanan dari harga energi global dan ketidakpastian rantai pasokan tetap menjadi tantangan utama yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
Inflasi India terus bergerak naik selama sembilan bulan berturut-turut dan mencapai 4,45% pada Juli 2026. Meski begitu, bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa penyesuaian di bulan Agustus, berbeda dari kebijakan beberapa negara Asia lain yang memperketat moneter. Keputusan ini menunjukkan kebijakan yang konsisten dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Tonton Videonya
Berita Terkait

Harga Bensin AS Tembus Rp72,7 Juta per Galon Akibat Ketegangan AS-Iran
Lonjakan harga bensin di AS mencapai Rp72,7 juta per galon menjelang Labor Day, dipicu serangan militer terhadap Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
8 September 2026

JLR Siap PHK 4.000 Karyawan Akibat Tekanan Persaingan Global
Jaguar Land Rover mengumumkan pemangkasan 4.000 posisi kerja sebagai respons terhadap tekanan kompetitif dari mobil China dan ketidakpastian pasar global.
8 September 2026

Pesawat Kargo Melampaui Batas Landasan, Tewaskan Lima Orang di Miami
Kecelakaan pesawat kargo Amazon Prime Air 7598 di Bandara Internasional Miami menewaskan lima orang dan melukai lima lainnya, termasuk tiga dalam kondisi kritis, setelah melampaui batas landasan pacu saat mendarat.
7 September 2026

AS Perbarui Imbauan Keamanan untuk Wisatawan ke Brasil
Pemerintah AS memperbarui rekomendasi perjalanan ke Brasil dengan penekanan pada risiko kejahatan berkekerasan dan penculikan kilat di kawasan perkotaan.
7 September 2026
Berita Lainnya

Anak Rentan Iritasi Paru Akibat Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 11.47 WITA

Wisata Bromo Tetap Beroperasi, Syuting Dibekukan Sementara
Rabu, 9 September 2026, 11.46 WITA

7 Langkah Alami Atasi Tenggorokan Gatal Akibat Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 11.46 WITA

7 Makanan Alami Bantu Atasi Lendir di Tenggorokan Akibat Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA

Penjualan Motor Agustus 2026 Turun Signifikan
Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA

Penjualan Mobil Nasional Agustus 2026 Tumbuh, Toyota Puncaki Peringkat
Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA

Harga Apple Naik Akibat Kelangkaan Chip, Penjualan Tetap Stabil
Rabu, 9 September 2026, 11.37 WITA

Penjualan Mobil Capai Rekor Tertinggi, BYD Masuk Lima Besar
Rabu, 9 September 2026, 11.37 WITA



