Indonesia Perlu Hilirisasi Terintegrasi untuk Manfaat Maksimal
Transformasi pertambangan nasional harus berbasis hilirisasi terintegrasi agar nilai tambah mineral dirasakan seluruh rakyat.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 15.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Indonesia perlu mengubah paradigma eksploitasi sumber daya alam dari bentuk mentah ke proses industri yang terhubung secara utuh. Menurut pakar dari Universitas Indonesia, langkah ini bukan sekadar membangun pabrik pemurnian, melainkan menciptakan rantai produksi yang menyambungkan hulu hingga hilir, mulai dari tambang, pengolahan, hingga produk akhir siap pasarkan. Tanpa keterpaduan sistem ini, nilai ekonomi dari kekayaan alam akan tetap rendah, meski cadangan melimpah.
Dengan cadangan nikel mencapai 42% dari total global, serta posisi teratas dalam cadangan timah dan peringkat tinggi untuk bauksit, emas, batu bara, dan tembaga, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menjadi pusat industri mineral. Namun, kendala utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada ketiadaan keterpaduan rantai nilai. Kepemilikan asing atas sebagian cadangan strategis juga menghambat optimalisasi manfaat nasional, yang seharusnya sesuai dengan amanat UUD 1945 Pasal 33 Ayat (3).
Pemerintah telah menetapkan dua prioritas strategis dalam program hilirisasi: meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor. Salah satu contoh konkret adalah kebutuhan kabel bawah laut yang selama ini dipasok dari luar. Dengan cadangan tembaga yang besar, produksi dalam negeri seharusnya mampu memenuhi kebutuhan domestik terlebih dahulu, baru kemudian diekspor jika surplus.
Kunci keberhasilan hilirisasi bukan hanya pada pembangunan smelter, tetapi pada ketersediaan pasokan bahan baku dari hulu dan keberadaan industri hilir yang mampu menyerap hasil olahan. Tanpa keduanya, fasilitas pemurnian hanya menjadi titik tengah yang tidak berdampak signifikan. Oleh karena itu, keberhasilan transformasi industri harus diukur dari keterpaduan sistem, bukan sekadar jumlah pabrik yang berdiri.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
ANTAM Perkuat Pengelolaan SDA untuk Kesejahteraan Masyarakat
ANTAM tekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan demi kesejahteraan rakyat di Sulawesi Tenggara.
8 September 2026
Gubernur Sultra Minta Penegak Hukum Periksa Istri Terkait Denda Tambang Nikel di Hutan Lindung
Gubernur Sultra menanggapi denda Rp2,19 triliun terhadap PT TMS dengan menyerahkan penjelasan kepada penegak hukum dan menegaskan tidak menjadi pihak yang berwenang menjawab.
8 September 2026

PTBA Perkuat Diversifikasi, Sasaran 20% Pendapatan dari Hilirisasi
PTBA menargetkan kontribusi pendapatan dari hilirisasi dan diversifikasi produk mencapai 20% dalam empat tahun, didukung proyek gasifikasi dan energi terbarukan.
8 September 2026

Tembaga dan Emas Jadi Pilar Ekonomi Berkelanjutan
Pengelolaan tembaga di Indonesia kini berfokus pada hilirisasi dan integrasi industri, dengan produksi emas dari PMR PTFI mulai mendukung kebutuhan domestik dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA


