Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investasi Kecerdasan Buatan Picu Kekhawatiran Inflasi di AS

Belanja besar infrastruktur kecerdasan buatan di AS diperkirakan mendorong inflasi karena lonjakan permintaan yang tak sebanding dengan pasokan, menimbulkan tekanan ekonomi jangka pendek.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 17.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Investasi Kecerdasan Buatan Picu Kekhawatiran Inflasi di AS📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan drastis dalam belanja infrastruktur kecerdasan buatan di Amerika Serikat menjadi sorotan ekonomi global, menyusul kekhawatiran bahwa ekspansi teknologi ini bisa memperparah tekanan inflasi. Meski ekonomi AS menunjukkan kekuatan signifikan—dengan tingkat pengangguran 4,1 persen, manufaktur pada level tertinggi sejak 2021, dan penjualan ritel naik 1,2 persen pada Agustus—kebutuhan mendesak untuk membangun pusat data, membeli chip, dan memperkuat sistem server justru menimbulkan ketegangan struktural di pasar.

Proyeksi dari JPMorgan memperkirakan belanja infrastruktur AI mencapai US$1 triliun pada 2026, dengan perkiraan total mencapai US$10,3 triliun hingga 2032. Nilai tersebut setara dengan 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS per tahun dalam periode 2025 hingga 2032. Lonjakan permintaan ini tidak hanya menyeret kebutuhan teknologi, tetapi juga material konstruksi, energi listrik, serta tenaga kerja spesialis seperti teknisi listrik, tukang ledeng, dan pekerja konstruksi, yang kini mulai mengalami kekurangan pasokan.

Kondisi ini menimbulkan risiko guncangan permintaan yang berpotensi mendorong kenaikan harga. Menurut Daniel Yue dari Georgia Tech, ketidakseimbangan antara permintaan yang melonjak dan pasokan yang terbatas menjadi pemicu utama inflasi. Kendala seperti keterbatasan pasokan komponen, regulasi ketat, serta pembatasan imigrasi memperlambat penyesuaian pasar, sehingga tekanan harga mulai dirasakan di sektor-sektor kritis.

The Fed, khususnya Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee, kini memantau apakah aktivitas ekonomi akibat investasi AI sudah melebihi kapasitas penyerapan ekonomi AS. Jika terjadi overheating, langkah kunci yang mungkin diambil adalah menaikkan suku bunga acuan untuk menekan permintaan. Namun, ekonom dari Nationwide, Oren Klachkin, menekankan bahwa investasi AI relatif tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga, sehingga dampak pengetatan kebijakan moneter mungkin terbatas dalam jangka pendek.

Di sisi lain, potensi manfaat jangka panjang dari AI tetap relevan, terutama jika produktivitas ekonomi meningkat sesuai harapan. Namun, hingga saat ini, manfaat tersebut belum sepenuhnya terrealisasi, sementara tekanan struktural dari pembangunan infrastruktur sudah terasa. Joe Brusuelas, Kepala Ekonom RSM US, menegaskan bahwa transformasi ekonomi AS menuju model berbasis kecerdasan buatan telah dimulai, tetapi dengan tantangan baru: investasi yang seharusnya menjadi pendorong pertumbuhan justru berpotensi menjadi sumber inflasi jika tidak diimbangi peningkatan kapasitas pasokan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya