Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investigasi Tersembunyi soal Kamp Paksa China dan Warisan Kekerasan Sistemik

Buku baru berdasarkan rekaman rahasia tahun 1991 mengungkap sistem paksa paksa China yang menyebabkan ekspor barang dari narapidana, serta menyoroti kekejaman sistemik yang terus berkembang hingga kini.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 15.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 13x dibuka
Investigasi Tersembunyi soal Kamp Paksa China dan Warisan Kekerasan Sistemik📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada pertengahan tahun 1990-an, sebuah tim jurnalistik dari Amerika Serikat melakukan misi tersembunyi ke wilayah Tiongkok dengan alat rekam tersembunyi, berkat bimbingan seorang penyintas sistem penahanan yang paling memahami struktur dalamnya: Harry Wu. Misi ini bertujuan mengungkap praktik ekspor barang hasil kerja paksa narapidana ke pasar global, khususnya Amerika Serikat, yang secara hukum dilarang berdasarkan peraturan federal. Hasil rekaman tersebut kemudian ditayangkan dalam program dokumenter terkenal, yang kini menjadi dasar dari karya terbaru oleh Orville Schell, seorang pengamat China ternama, yang diterbitkan pada 2026.

Buku berjudul *Inside China's Secret Prisons: An Undercover Exposé and Its Lasting Legacy* menguraikan sistem Laogai—singkatan dari laodong gaizao, atau "reformasi melalui kerja"—yang dikenal sebagai mesin penindasan berbasis paksa kerja. Sosiolog Massimo Introvigne, dalam analisisnya, menyamakan sistem ini dengan gulag Soviet, tetapi dengan ciri khas khas Tiongkok era Mao: penggunaan program reformasi pikiran, pengakuan paksa, dan kritik diri terbuka sebagai alat pengendalian mental. Narapidana politik, menurut catatan Schell, dipaksa mengaku melakukan tindakan yang tidak pernah dilakukan, demi memenuhi tuntutan sistem yang menekankan loyalitas mutlak kepada Partai Komunis Tiongkok.

Schell menggambarkan dunia kamp tersebut melalui lensa karya sastra Franz Kafka dan konsep "kekejaman biasa" milik Hannah Arendt, di mana kekejaman bukanlah hasil kegilaan individu, melainkan hasil dari mekanisme birokrasi yang mengintegrasikan kekejaman ke dalam rutinitas harian. Harry Wu, yang menghabiskan 19 tahun dalam kamp-kamp tersebut sebelum berhasil melarikan diri ke AS, menjadi tokoh kunci dalam investigasi. Ia kembali ke Tiongkok berulang kali meski menghadapi ancaman besar, demi merekam bukti kekejaman yang terjadi. Namun, kisah penerbitan buku ini terlambat selama puluhan tahun karena ketakutan Schell akan ancaman terhadap keluarganya yang masih tinggal di Tiongkok.

Introvigne menekankan bahwa keputusan untuk menahan publikasi laporan awal di majalah New Yorker mencerminkan efek intimidasi yang mendalam dari otoritas Tiongkok, bahkan terhadap jurnalis dan akademisi asing. Buku Schell menunjukkan bahwa sistem yang didokumentasikan tidak lenyap, melainkan berevolusi—kini mengarah ke wilayah Xinjiang, di mana ratusan ribu warga Uyghur dan Muslim Turkik dikurung dalam fasilitas yang disebut "pusat pelatihan kejuruan" dan dipaksa bekerja dalam rantai produksi global. Teknologi tinggi seperti pengenalan wajah dan pengumpulan data biometrik kini memperkuat pengawasan, menciptakan efisiensi yang jauh melampaui masa lalu.

Kini, dengan kebijakan penolakan visa dan pengendalian informasi yang ketat, investigasi langsung seperti yang dilakukan CBS pada 1991 hampir tak mungkin dilakukan. Introvigne menegaskan bahwa harapan liberalisasi melalui perdagangan ekonomi—yang sempat melekat pada era Deng Xiaoping—telah runtuh di bawah kepemimpinan Xi Jinping, yang kembali memperkuat kontrol terpusat dan otoriter. Menurutnya, represi adalah bagian integral dari "kode genetik" sistem pemerintahan Tiongkok. Buku Schell akhirnya menyerukan tanggung jawab moral bagi para pengamat internasional: meski tidak bisa masuk ke kamp, mereka tetap wajib mendukung hak asasi manusia, menyuarakan para pengungsi politik, dan menolak keheningan yang dipaksakan oleh rezim.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya