Islandia Tolak Kembali Bahas Keanggotaan Uni Eropa
Hasil referendum menunjukkan mayoritas warga Islandia menolak melanjutkan pembicaraan keanggotaan Uni Eropa, menekankan kekhawatiran atas kedaulatan dan sektor perikanan.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 10.57 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 7x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Hasil resmi referendum yang digelar di Islandia menunjukkan sebanyak 52,8 persen pemilih memilih menolak pembukaan kembali negosiasi keanggotaan Uni Eropa, sementara 47,2 persen mendukung. Keputusan ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah yang sebelumnya menjadikan proses tersebut sebagai prioritas utama. Kemenangan kubu penolak terasa nyata saat suara pertama diumumkan, dengan para pendukung bersorak di lokasi pemungutan suara, menandai keberhasilan kampanye yang intensif selama beberapa bulan terakhir.
Partisipasi pemilih dalam referendum kali ini mencatat rekor tinggi, bahkan melampaui tingkat partisipasi dalam pemilihan parlemen sebelumnya. Perdana Menteri Kristrun Mjöll Frostadóttir menyambut hasil ini sebagai bentuk keterlibatan aktif warga dalam isu strategis nasional. Ia menilai perdebatan yang berkembang selama kampanye telah memperdalam kesadaran publik tentang posisi Islandia dalam konteks global, meski tidak berujung pada keberhasilan politik yang diharapkan.
Alasan utama penolakan berasal dari kekhawatiran terhadap kehilangan kendali atas sumber daya alam, terutama sektor perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi negara. Pendukung kubu "Tidak" menekankan bahwa keanggotaan Uni Eropa berpotensi mengancam kuota penangkapan ikan dan membuka akses perusahaan asing ke perairan nasional. Hallgrímur Oddsson dari lembaga kajian Evrópustraumar menegaskan bahwa isu perikanan menjadi pusat argumen penolakan, karena keputusan di tingkat Eropa diambil secara kolektif oleh 27 negara, termasuk Islandia yang belum menjadi anggota.
Di sisi lain, kubu pendukung keanggotaan berargumen bahwa Islandia telah menjalankan banyak aturan Uni Eropa melalui perjanjian Kawasan Ekonomi Eropa (EEA), tanpa memiliki suara dalam pembentukan kebijakan. Mereka menilai keanggotaan bisa membantu menstabilkan biaya hidup melalui penggunaan mata uang euro dan memperkuat posisi negara di wilayah Arktik. Namun, narasi tersebut tidak cukup meyakinkan mayoritas pemilih, terutama di daerah pedesaan barat laut yang bergantung pada perikanan dan pertanian, di mana hampir 63 persen warga memilih menolak.
Pemilih muda, yang sebelumnya lebih terbuka terhadap keanggotaan, juga menunjukkan pergeseran sikap. Dari dua pertiga dukungan pada bulan Juni, jumlah ini turun menjadi sekitar 40 persen pada akhir Agustus. Ilmuwan politik Maximilian Conrad menyebut kubu penolak berhasil membingkai referendum sebagai isu kedaulatan, bukan sekadar melanjutkan negosiasi. Dengan hasil ini, kemungkinan besar keanggotaan Islandia tidak akan menjadi agenda utama dalam waktu dekat, meskipun hubungan bilateral dengan Uni Eropa diperkirakan tetap dipertahankan melalui jalur lain.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tentara AS Didakwa Insider Trading Rp7,2 Miliar
Seorang tentara aktif AS didakwa menggunakan informasi rahasia militer untuk meraih keuntungan hingga Rp7,2 miliar dari pasar prediksi, terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.
25 Oktober 2026

Lutfi dan Dino Berbeda Sikap Soal Tekanan Singapura Terkait Pasar Saham dan Karhutla
Perbedaan pandangan muncul antara dua tokoh publik soal respons terhadap tekanan Singapura terkait klasifikasi pasar modal dan kebakaran hutan, dengan Lutfi menyoroti kepentingan ekonomi dan lingkungan, sementara Dino menekankan pentingnya diplomasi dan kerja sama regional.
25 Oktober 2026

Widodo AS Tutup Usia, Pemimpin TNI Pertama dari Angkatan Laut
Mantan Panglima TNI dan Menko Polhukam, Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto, meninggal dunia pada Minggu (25/10), meninggalkan jejak sejarah sebagai tokoh militer pertama dari matra Angkatan Laut yang memimpin TNI secara nasional.
25 Oktober 2026

Demonstrasi Prancis Ricuh, Massa Protes Biaya Hidup
Aksi protes nasional di Paris dan Marseille memicu bentrokan dengan polisi akibat ketidakpuasan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup yang tinggi.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anggota BPK Fathan Subchi Wafat di Usia 56 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.59 WITA

Sopir Ojol Korban Tabrakan Mobil BYD Masih Dirawat di RS Fatmawati
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Santri Klaten Diharapkan Jadi Pilar Pembangunan Indonesia Emas
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Ribu Warga Albania Demo, Tuntut Mundurnya PM Akibat Krisis Hidup dan Korupsi
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Prabowo Tegaskan Ketahanan Ekonomi Indonesia Hadapi Tekanan MSCI
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

243 Orang dan 14 Perusahaan Jadi Tersangka Karhutla
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

UMKM Binaan Pertamina Dorong Pemberdayaan Sosial dan Pelestarian Budaya
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

Penangkapan Jaringan Narkoba di Mesuji Ungkap Ratusan Ekstasi dan Senjata Rakitan
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

