Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kapal Induk AS Bersandar di Thailand, Dorong Ekonomi dan Pemicu Kontroversi

Kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laem Chabang memicu harapan ekonomi namun juga memperburuk isu wisata seks di Pattaya, menyulut antisipasi pemerintah dan masyarakat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 18.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kapal Induk AS Bersandar di Thailand, Dorong Ekonomi dan Pemicu Kontroversi
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kapal induk kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, tiba di Pelabuhan Laem Chabang, Provinsi Chonburi, Thailand, pada Rabu (2/9/2026), menandai akhir dari pelayaran selama 200 hari di laut. Perjalanan ini melibatkan operasi panjang di kawasan Timur Tengah, dengan kondisi di atas kapal yang sempat menjadi perhatian karena laporan mengenai kesehatan mental awak serta tekanan fisik akibat durasi bertugas yang melampaui batas normal.

Dalam kunjungan ini, kapal perang raksasa tersebut membawa sekitar 5.000 personel militer, termasuk pelaut dan marinir, yang menyebabkan lonjakan permintaan terhadap layanan di sekitar kawasan pelabuhan dan kota wisata seperti Pattaya. Kehadiran mereka diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi lokal, terutama di bidang perhotelan, kuliner, dan transportasi.

Namun, kedatangan kapal induk juga memicu kekhawatiran serius terhadap praktik wisata seks yang telah lama menjadi isu sensitif di Thailand. Menjelang kedatangan, otoritas setempat telah meningkatkan patroli di kawasan hiburan malam dan tepi pantai, khususnya di Pattaya, sebagai respons terhadap potensi peningkatan aktivitas seks komersial. Polisi menyatakan kesiapan menghadapi dampak sosial yang mungkin muncul dari kedatangan besar-besaran personel militer asing.

Pattaya, yang awalnya merupakan desa nelayan, berkembang menjadi pusat wisata utama sejak Perang Vietnam, ketika tentara AS mencari hiburan di darat. Diperkirakan, setiap anggota militer AS mampu menghabiskan antara 1.000 hingga 3.000 baht (sekitar Rp 535 ribu hingga Rp 1,61 juta) per hari selama masa singgah, menjadikan kota tersebut salah satu lokasi paling menguntungkan secara ekonomi dalam konteks kedatangan militer asing.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya