Kekeringan Parah Guncang Sri Lanka Akibat El Nino
Kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino melanda sejumlah wilayah Sri Lanka, menyebabkan sumur kering, panen gagal, dan warga terpaksa menggali tanah untuk mendapatkan air.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 23.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kondisi krisis air melanda berbagai daerah di Sri Lanka, terutama di wilayah utara, timur, dan selatan, akibat kekurangan curah hujan yang mencapai 85 hingga 100 persen dibanding rata-rata historis. Fenomena El Nino menjadi pemicu utama, menyebabkan penurunan drastis ketinggian air di ratusan waduk kecil hingga mencapai sekitar 10 persen dari kapasitas normal. Banyak sungai, danau, dan sumber air alami yang biasa menjadi penopang pertanian serta kebutuhan sehari-hari kini mengering.
Di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, petani berusia 48 tahun, A.M. Pathmasena, mengungkapkan bahwa sumurnya—yang selama lebih dari tiga dekade menjadi sumber air utama—kini hampir tak lagi menghasilkan air. Ia menyebut air yang tersisa hanya cukup untuk kebutuhan dasar keluarga dan dua ekor sapi. Untuk keperluan mandi, ia dan keluarganya harus menggali lubang kecil di dasar sumur dan menunggu air merembes perlahan dari tanah.
Keterbatasan akses air juga berdampak langsung pada sektor pertanian, di mana gagal panen menimpa sebagian besar wilayah pertanian. Pendapatan petani anjlok, sementara masyarakat terpaksa mengandalkan distribusi air dari pemerintah untuk kebutuhan pokok. Dalam kondisi seperti ini, warga terpaksa membawa ember dan bak ke sungai yang kini hanya menyisakan genangan tipis, bahkan tanpa air mengalir.
Pemerintah menyatakan bahwa dampak kekeringan tahun ini berpotensi menjadi yang paling buruk dalam beberapa dekade terakhir. Krisis air bukan hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menimbulkan ancaman terhadap ketahanan pangan dan kehidupan ekonomi lokal. Upaya mitigasi sedang dilakukan, namun tantangan terbesar tetap berada pada pemulihan sumber daya air yang telah kritis akibat perubahan iklim ekstrem.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PMI Manufaktur RI Masih di Zona Kontraksi
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026, tercatat di level 49,8, menunjukkan penurunan aktivitas produksi.
9 September 2026

Imos 2026 Siap Hadirkan Solusi Mobilitas Modern di Tangerang
Pameran sepeda motor terbesar Tanah Air bakal digelar 20–29 November 2026 di ICE BSD City, menawarkan inovasi teknologi dan beragam solusi mobilitas produktif bagi masyarakat.
8 September 2026

Dana Desa Rp40 T Siap Lunasi Cicilan Kopdes Merah Putih
Pemerintah menjamin pembayaran cicilan proyek Koperasi Desa Merah Putih tidak akan membebani bank negara berkat alokasi dana desa Rp40 triliun per tahun selama enam tahun.
8 September 2026

237 SPBU di Jatim, Bali, NTB, dan NTT Diberi Sanksi BBM Subsidi
Pertamina menerapkan sanksi terhadap 237 SPBU di lima wilayah karena pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi hingga September 2026.
8 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


