Kenaikan Yield Global Picu Peringatan Ekonom untuk Indonesia
Kenaikan imbal hasil obligasi global memicu peringatan ekonom soal risiko fiskal dan tekanan ekonomi bagi Indonesia, terutama terkait biaya modal dan stabilitas anggaran.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 07.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara maju mencatatkan tren menanjak dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan pakar ekonomi mengenai dampak jangka panjang terhadap stabilitas fiskal global. Kenaikan ini bukan sekadar koreksi pasar, melainkan refleksi dari peningkatan ekspektasi risiko inflasi, ketegangan geopolitik, serta tekanan fiskal yang terus berlanjut. Menurut ekonom dari INDEF, M. Rizal Taufikurahman, kenaikan yield merupakan indikator kenaikan harga risiko yang berdampak langsung pada biaya modal global, penurunan valuasi aset, dan kondisi likuiditas yang semakin ketat.
Dalam konteks Indonesia, pergerakan yield global berpotensi memengaruhi biaya pendanaan korporasi dan perbankan, karena obligasi negara (SBN) menjadi acuan utama dalam penetapan suku bunga. Jika tren ini berlanjut, maka beban bunga utang pemerintah akan meningkat, mempersempit ruang fiskal untuk belanja produktif. Rizal menekankan bahwa risiko terbesar muncul ketika pasar mulai meragukan kemampuan negara dalam menangani kewajiban fiskal, yang bisa memicu krisis kepercayaan terhadap utang negara.
Ekonom BCA, David Sumual, menambahkan bahwa dampak kenaikan yield tergantung pada struktur utang publik masing-masing negara. Negara dengan rasio utang rendah akan mengalami tekanan pada ekspansi bisnis, sementara negara dengan utang tinggi berpotensi menghadapi tekanan signifikan terhadap pembayaran bunga. Ia menekankan bahwa kenaikan yield belum membawa ancaman krisis secara langsung, terutama jika dibandingkan dengan krisis 1998 atau 2008 yang dipicu oleh krisis perbankan dan sistemik. Kini, ancaman lebih bersifat perlahan dan berkelanjutan, terutama jika tekanan terjadi secara serentak di banyak ekonomi besar.
Untuk Indonesia, risiko yang muncul bukan hanya dari kenaikan biaya modal, tetapi juga dari kombinasi inflasi impor, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dan keterbatasan ruang penurunan suku bunga. Rizal menyoroti pentingnya menjaga stabilitas rupiah, kualitas pengeluaran anggaran, serta disiplin fiskal sebagai fondasi utama. David pun menyarankan pemerintah untuk memperkuat basis pajak, menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB, serta menekan rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara. Kepastian kebijakan fiskal dan ekonomi juga dinilai krusial untuk menjaga persepsi investor.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Survei IPO menempatkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di posisi lima besar kinerja menteri Kabinet Merah Putih, dengan 12 persen responden menilai kinerjanya baik.
25 Oktober 2026

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Kegiatan Kumitra Jambore 2026 di Banjarmasin bertujuan memperluas akses pasar dan mengintegrasikan pelaku UMKM Kalimantan Selatan ke dalam rantai pasok nasional.
25 Oktober 2026

Penundaan Sertifikasi Halal UMKM Diperpanjang Hingga 2028
Pemerintah memperpanjang tenggat waktu sertifikasi halal bagi UMKM hingga 2028 menyusul belum tercapainya target dan berbagai kendala operasional dari pelaku usaha.
25 Oktober 2026

Gandrung Sewu 2026 Dorong Peningkatan Ekonomi Lokal
Gelaran budaya kolosal Gandrung Sewu 2026 dengan konsep malam hari berhasil tingkatkan okupansi akomodasi dan kunjungan wisatawan di Banyuwangi.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

OJK Sultra Perkenalkan INFINITY Dorong Inovasi Keuangan Digital
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.25 WITA
Putin: Protes Eropa Akibat Gagalnya Kebijakan Dalam Negeri
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.24 WITA

