Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kentut Berbau Tak Sedap? Bisa Jadi Tanda Gangguan Pencernaan

Kentut berbau menyengat atau sering terjadi bisa jadi pertanda adanya gangguan pencernaan seperti disbiosis, SIBO, atau malabsorpsi karbohidrat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 17.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kentut Berbau Tak Sedap? Bisa Jadi Tanda Gangguan Pencernaan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kentut adalah fenomena alami yang terjadi pada setiap individu sebagai bagian dari proses pencernaan. Gas yang dihasilkan berasal dari fermentasi makanan oleh bakteri usus, terutama di usus besar. Namun, ketika kentut muncul secara berulang, disertai bau yang sangat khas, atau disertai gejala seperti kembung dan nyeri perut, hal tersebut dapat menjadi indikator adanya ketidakseimbangan dalam sistem pencernaan.

Salah satu penyebab utama kentut berbau tajam adalah gangguan pencernaan yang menghambat proses pemecahan makanan. Ketika enzim pencernaan, asam lambung, atau empedu tidak berfungsi optimal, sebagian makanan masuk ke usus besar dalam bentuk belum tercerna. Di sana, bakteri melakukan fermentasi terhadap sisa makanan ini, menghasilkan gas berbau tidak sedap. Orang dengan riwayat operasi kantong empedu atau gangguan pankreas berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.

Kondisi lain yang perlu diperhatikan adalah malabsorpsi karbohidrat, seperti laktosa, fruktosa, dan FODMAP. Karbohidrat jenis ini sulit diserap oleh sebagian orang, sehingga masuk ke usus besar dan difermentasi oleh mikroba. Proses ini tidak hanya memicu produksi gas berlebih, tetapi juga dapat memicu kembung dan kentut bau. Beberapa pemanis buatan dan gula alkohol juga dapat menjadi pemicu serupa, terutama pada individu sensitif.

Disbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikrobioma usus, juga berperan penting. Ketika populasi bakteri baik berkurang dan bakteri penyebar gas dominan, produksi gas seperti hidrogen sulfida dan amonia meningkat. Senyawa ini memiliki bau yang sangat menyengat dan berkontribusi pada kentut yang tidak sedap. Faktor seperti penggunaan antibiotik jangka panjang, stres, kurang tidur, dan pola makan rendah serat dapat memicu disbiosis.

Selain itu, dua kondisi spesifik yang sering dikaitkan dengan kentut berbau adalah Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO) dan Intestinal Methanogen Overgrowth (IMO). SIBO terjadi ketika bakteri usus besar berkembang di usus halus, memfermentasi karbohidrat sebelum diserap, menghasilkan gas seperti hidrogen dan metana. Pada kasus tertentu, bau kentut bisa seperti telur busuk akibat hidrogen sulfida. IMO, di sisi lain, melibatkan archaea penghasil metana yang menggunakan gas lain sebagai bahan baku, menyebabkan peningkatan metana dalam usus. Keduanya sering menimbulkan gejala mirip IBS, sehingga diperlukan pemeriksaan medis untuk diagnosis akurat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya