Kentut Berbau Tak Sedap? Bisa Jadi Tanda Gangguan Pencernaan
Kentut berbau menyengat atau sering terjadi bisa jadi pertanda adanya gangguan pencernaan seperti disbiosis, SIBO, atau malabsorpsi karbohidrat.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 17.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kentut adalah fenomena alami yang terjadi pada setiap individu sebagai bagian dari proses pencernaan. Gas yang dihasilkan berasal dari fermentasi makanan oleh bakteri usus, terutama di usus besar. Namun, ketika kentut muncul secara berulang, disertai bau yang sangat khas, atau disertai gejala seperti kembung dan nyeri perut, hal tersebut dapat menjadi indikator adanya ketidakseimbangan dalam sistem pencernaan.
Salah satu penyebab utama kentut berbau tajam adalah gangguan pencernaan yang menghambat proses pemecahan makanan. Ketika enzim pencernaan, asam lambung, atau empedu tidak berfungsi optimal, sebagian makanan masuk ke usus besar dalam bentuk belum tercerna. Di sana, bakteri melakukan fermentasi terhadap sisa makanan ini, menghasilkan gas berbau tidak sedap. Orang dengan riwayat operasi kantong empedu atau gangguan pankreas berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.
Kondisi lain yang perlu diperhatikan adalah malabsorpsi karbohidrat, seperti laktosa, fruktosa, dan FODMAP. Karbohidrat jenis ini sulit diserap oleh sebagian orang, sehingga masuk ke usus besar dan difermentasi oleh mikroba. Proses ini tidak hanya memicu produksi gas berlebih, tetapi juga dapat memicu kembung dan kentut bau. Beberapa pemanis buatan dan gula alkohol juga dapat menjadi pemicu serupa, terutama pada individu sensitif.
Disbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikrobioma usus, juga berperan penting. Ketika populasi bakteri baik berkurang dan bakteri penyebar gas dominan, produksi gas seperti hidrogen sulfida dan amonia meningkat. Senyawa ini memiliki bau yang sangat menyengat dan berkontribusi pada kentut yang tidak sedap. Faktor seperti penggunaan antibiotik jangka panjang, stres, kurang tidur, dan pola makan rendah serat dapat memicu disbiosis.
Selain itu, dua kondisi spesifik yang sering dikaitkan dengan kentut berbau adalah Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO) dan Intestinal Methanogen Overgrowth (IMO). SIBO terjadi ketika bakteri usus besar berkembang di usus halus, memfermentasi karbohidrat sebelum diserap, menghasilkan gas seperti hidrogen dan metana. Pada kasus tertentu, bau kentut bisa seperti telur busuk akibat hidrogen sulfida. IMO, di sisi lain, melibatkan archaea penghasil metana yang menggunakan gas lain sebagai bahan baku, menyebabkan peningkatan metana dalam usus. Keduanya sering menimbulkan gejala mirip IBS, sehingga diperlukan pemeriksaan medis untuk diagnosis akurat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Program Pengawal Energi 2026 Siap Perkuat Penyaluran BBM di 3.679 SPBU
Pemerintah meluncurkan Program Pengawal Energi 2026 untuk meningkatkan pengawasan distribusi BBM bersubsidi dan penugasan di seluruh Indonesia melalui penempatan petugas berintegritas.
25 Oktober 2026

Data Center Skala Besar Diminta Mandiri Energi dan Air
Proyek data center besar di Indonesia, terutama yang mendukung kecerdasan buatan, diminta membangun sumber energi dan sistem air mandiri untuk menjaga keseimbangan pasokan nasional.
25 Oktober 2026

Gandrung Sewu 2026 Tampilkan Tradisi Bercahaya di Malam Hari
Pertunjukan kolosal Gandrung Sewu 2026 digelar malam hari di Pantai Marina Boom dengan konsep glow in the dark, menggabungkan seni tradisi dan teknologi modern untuk menarik generasi muda.
25 Oktober 2026

Program Pengawal Energi 2026 Diluncurkan untuk Perkuat Pengawasan BBM
Pemerintah resmi meluncurkan Program Pengawal Energi 2026 untuk memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi dan penugasan di 3.679 SPBU melalui pemberdayaan putra-putri daerah.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anggota BPK Fathan Subchi Wafat di Usia 56 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.59 WITA

Sopir Ojol Korban Tabrakan Mobil BYD Masih Dirawat di RS Fatmawati
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Santri Klaten Diharapkan Jadi Pilar Pembangunan Indonesia Emas
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Ribu Warga Albania Demo, Tuntut Mundurnya PM Akibat Krisis Hidup dan Korupsi
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Prabowo Tegaskan Ketahanan Ekonomi Indonesia Hadapi Tekanan MSCI
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

243 Orang dan 14 Perusahaan Jadi Tersangka Karhutla
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

UMKM Binaan Pertamina Dorong Pemberdayaan Sosial dan Pelestarian Budaya
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

Penangkapan Jaringan Narkoba di Mesuji Ungkap Ratusan Ekstasi dan Senjata Rakitan
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

