Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Krisis Energi Parah Landa Libya, Warga Terjepit di Tengah Kekeringan dan Pemadaman

Libya mengalami krisis energi multidimensi dengan kelangkaan BBM, pemadaman listrik lebih dari 10 jam harian, dan kekeringan akibat gagalnya sistem air besar, memicu protes dan kerugian ekonomi luas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 23.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Krisis Energi Parah Landa Libya, Warga Terjepit di Tengah Kekeringan dan Pemadaman
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Krisis energi yang melanda Libya telah berlangsung lebih dari enam minggu, menimbulkan dampak berantai terhadap kehidupan sehari-hari warga. Di ibu kota Tripoli, antrean panjang kendaraan terpantau di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, bahkan memakan waktu hingga tiga hari hanya untuk mendapatkan solar. Suhu ekstrem mendekati 40 derajat Celcius memperburuk kondisi, sementara harga solar di pasar gelap melonjak hingga 8 dinar Libya per liter—setara US$1,26 atau Rp22.302—menjadi lebih dari 50 kali lipat dari harga subsidi resmi.

Pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari 10 jam setiap hari telah menghancurkan aktivitas ekonomi, terutama di sektor perdagangan dan jasa. Khaled Ibrahim, pemilik supermarket di wilayah Timur Tripoli, melaporkan kerusakan mesin pendingin akibat listrik padam, menyebabkan stok makanan cepat membusuk dan pelanggan kehilangan akses terhadap air dingin. Ia menyatakan kondisi ini merupakan musim terburuk dalam karier bisnisnya dan menyebutkan kemungkinan tutup permanen jika tidak ada perbaikan.

Krisis juga menjangkiti sistem air bersih setelah operasional Great Man-Made River—jaringan pipa air tawar terbesar di dunia—terganggu akibat keterbatasan listrik. Rafaa Zaid, pemilik kafe di wilayah Tengah Tripoli, terpaksa menutup usahanya total karena tidak ada air untuk memenuhi kebutuhan dasar. Setiap hari yang tidak beroperasi berarti kerugian tambahan, tetapi ia tidak mampu berbuat apa pun tanpa akses air.

Demonstrasi massal yang berujung kekerasan muncul di berbagai wilayah, dengan warga membakar ban dan menghalangi jalan raya hingga memblokir gedung pemerintah menggunakan puing-puing bangunan. Respons terhadap krisis ini datang dari otoritas energi, di mana Ketua Perusahaan Listrik Umum Libya (GECOL), Bashir Al-Marash, menjanjikan penyelesaian dalam dua minggu ke depan. Sementara itu, juru bicara Brega Petroleum Marketing Company, Ahmed Al-Masallati, menyebutkan gangguan global—terutama di Selat Hormuz—menunda kedatangan pengiriman bahan bakar, sementara penurunan produksi di kilang Zawia akibat pemadaman dan ketidakstabilan keamanan lokal memperparah pasokan domestik.

Meski memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika, Libya bergantung tinggi pada impor produk olahan karena keterbatasan infrastruktur pengolahan. Menurut pakar energi dari Universitas Omar Al-Mukhtar, Tariq Al-Tarhouni, akar permasalahan bukan hanya pada keterbatasan pembangkit listrik, tetapi pada kegagalan sistemik dalam pengelolaan energi secara menyeluruh. Krisis ini menegaskan bahwa keberlanjutan energi tidak hanya soal pasokan, tetapi juga tata kelola, infrastruktur, dan stabilitas sosial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya