Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Labfor Polri Periksa Sampel Makanan Usai 566 Santri Keracunan di Sidoarjo

Tim Labfor Polri memeriksa sampel makanan dari program Makan Bergizi Gratis yang diduga menyebabkan keracunan massal pada 566 santri dan pelajar di Sidoarjo.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 18.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Labfor Polri Periksa Sampel Makanan Usai 566 Santri Keracunan di Sidoarjo
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri telah turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian keracunan massal di Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini dilakukan menyusul laporan adanya ratusan santri dan pelajar yang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 1 September 2026. Pemeriksaan dilakukan untuk menentukan secara ilmiah kemungkinan adanya kontaminasi atau zat berbahaya dalam makanan tersebut.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Jules Abraham Abast, membenarkan kehadiran tim Labfor dalam proses penyelidikan. Menurutnya, pemeriksaan ini merupakan bagian dari upaya mendalami penyebab kejadian tersebut secara ilmiah dan objektif. Labfor akan menganalisis komposisi makanan yang dikonsumsi oleh para korban untuk mengetahui apakah terdapat bakteri patogen, racun, atau bahan kimia yang menyebabkan keracunan.

Sebanyak 566 individu dari 19 lembaga pendidikan di Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, tercatat mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan tersebut. Dari jumlah tersebut, masih terdapat 88 korban yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Tim medis terus memantau kondisi kesehatan korban, sementara pihak kepolisian memastikan proses penyelidikan berjalan secara sistematis dan transparan.

Hasil pemeriksaan Labfor masih menunggu, dan pihak kepolisian setempat akan merilis perkembangan lebih lanjut setelah laporan resmi diterima. Penyelidikan ini juga mencakup aspek pengelolaan logistik, proses distribusi makanan, serta kelayakan sanitasi dari tempat produksi. Tujuan utamanya adalah memastikan tidak terulangnya kejadian serupa dan menjamin keamanan pangan dalam program sosial pemerintah daerah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya