Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Likuiditas Bank Aman Meski Serap Proyek Pemerintah

Gubernur BI menegaskan likuiditas sistem perbankan tetap stabil meski banyak proyek pemerintah diserap, dengan dana likuiditas mencapai Rp930 triliun dari instrumen moneter.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 13.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Likuiditas Bank Aman Meski Serap Proyek Pemerintah
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kepastian likuiditas yang tetap terjaga dalam sistem perbankan Indonesia ditegaskan oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. Ia menilai, meskipun sejumlah lembaga keuangan, khususnya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), aktif menyalurkan dana untuk proyek strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, hal tersebut tidak mengancam stabilitas keuangan nasional.

Menurut Destry, pemerintah telah melakukan perhitungan matang terkait alokasi dana, sehingga keterlibatan perbankan dalam program tersebut tetap berjalan secara seimbang. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak dilakukan secara asal, melainkan berdasarkan analisis yang mempertimbangkan ketersediaan likuiditas secara keseluruhan.

Bank Indonesia, lanjutnya, telah menyiapkan mekanisme penopang likuiditas melalui instrumen operasi moneter. Termasuk dalam kategori tersebut adalah repositori jangka pendek dan FX swap, yang mampu menyerap dana asing dan mengubahnya menjadi likuiditas rupiah dalam jumlah besar. Angka yang tercatat mencapai sekitar Rp930 triliun, menunjukkan aliran dana yang kembali ke dalam sistem domestik.

Destry menegaskan bahwa menjaga ketersediaan likuiditas bukan tanggung jawab semata pemerintah atau BI saja, melainkan merupakan kerja sama lintas lembaga. Kedua institusi ini, meski berbeda jalur operasional, bekerja sinergis—pemerintah melalui penyaluran dana, BI melalui penciptaan likuiditas—untuk memastikan ekonomi tetap stabil dan tumbuh secara berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya