Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Sembunyikan dari Keluarga

Seorang mantan menteri agama terkenal dengan kesederhanaan hidup, memilih berdagang beras di Pasar Glodok setelah pensiun, bahkan menyembunyikan profesi tersebut dari keluarganya hingga terbongkar secara tak sengaja.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 12.18 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Sembunyikan dari Keluarga📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setelah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dari tahun 1962 hingga 1967, Saifuddin Zuhri memilih hidup jauh dari kemewahan. Ia tidak memanfaatkan fasilitas negara yang seharusnya diperoleh pejabat tinggi, termasuk rumah dinas, dan tetap tinggal di rumah pribadi yang dibeli secara cicilan. Keputusan ini bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk komitmen terhadap prinsip kejujuran dan kemandirian yang telah ia pegang sejak masa jabatannya.

Pada era 1980-an, saat telah benar-benar pensiun dari kehidupan politik dan pemerintahan, ia memulai pekerjaan baru sebagai pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta. Setiap pagi, pukul 09.00 WIB, setelah menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobil sendiri untuk mengangkut karung beras menuju lapak dagangannya. Kehidupan sederhana ini dilakoni secara konsisten, tanpa pamrih, hingga menjadi bagian dari kisah hidup yang dikenang dalam sejarah kehidupan publik Indonesia.

Yang menarik, kebiasaan berdagang ini disimpan rapat dari keluarganya. Istri dan anak-anaknya hanya tahu bahwa ia pulang setiap hari membawa uang, tanpa tahu dari mana sumber penghasilan tersebut. Kebocoran rahasia terjadi ketika salah satu putranya secara kebetulan melihatnya sedang melayani pembeli di pasar. Kejadian itu menjadi bukti nyata bahwa kesederhanaan bukan sekadar retorika, melainkan gaya hidup yang dijalani secara tulus.

Kesederhanaan Saifuddin bukan hal baru. Dalam autobiografinya, *Berangkat dari Pesantren*, ia menceritakan bahwa sejak masa kecil, ia pernah menjual barang-barang bekas—mulai dari pakaian, perabotan, hingga rokok—untuk menopang kehidupan keluarga saat anak pertamanya lahir. Prinsip hidup ini terus melekat hingga akhir hayatnya. Bahkan setelah cicilan rumah pribadinya lunas, ia memilih menghibahkan seluruh harta tersebut untuk kepentingan sosial NU.

Kematian Saifuddin Zuhri pada 25 Februari 1986 tidak menghapus jejaknya sebagai sosok yang mengukir nilai integritas tinggi dalam dunia publik. Ia meninggalkan warisan moral yang tak ternilai: bahwa jabatan bukan alat untuk memperkaya diri, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kisah hidupnya tetap menjadi teladan bagi para pejabat dan masyarakat, bahwa keberhasilan sejati terukur bukan dari kekayaan, melainkan dari kesederhanaan dan kejujuran dalam bertindak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya