Masker Kain Tidak Cukup Lindungi dari Abu Vulkanik
Penggunaan masker kain dinilai tidak efektif melindungi pernapasan dari partikel abu vulkanik, meski lebih baik daripada tidak menggunakan pelindung sama sekali.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 15.42 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 10x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Erupsi Gunung Anak Krakatau telah memicu penyebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah, terutama di Jawa Barat dan Sumatra Selatan, yang berpotensi menurunkan kualitas udara. Paparan abu yang terbawa angin dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan memperparah kondisi medis seperti asma, terutama pada kelompok rentan. Dalam situasi ini, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari risiko paparan langsung.
Meskipun banyak warga beralih ke masker kain sebagai perlindungan, sejumlah panduan ilmiah menegaskan bahwa bahan kain seperti kaus, bandana, atau buff tidak cukup efektif menyaring partikel mikroskopis dari abu vulkanik. Kekurangan utama masker kain terletak pada celah yang besar dan ketidakmampuannya menutup wajah secara rapat, sehingga partikel dapat masuk melalui sela-sela. Bahkan, membasahi kain tidak meningkatkan daya penyaringan secara signifikan.
Sebagai alternatif yang lebih ampuh, dianjurkan penggunaan masker dengan sertifikasi industri seperti N95, KN95, FFP2, atau P2. Masker jenis ini dirancang untuk menyaring minimal 95 persen partikel udara mikro dan menutup wajah secara rapat, meminimalkan kebocoran udara. Organisasi kesehatan dunia dan lembaga seperti CDC merekomendasikan masker tersebut bagi mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan atau melakukan pembersihan abu vulkanik di lingkungan rumah.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun masker kain lebih baik daripada tidak menggunakan pelindung sama sekali, ia tidak boleh dianggap sebagai solusi utama dalam paparan abu vulkanik. Penggunaan yang benar—termasuk penutupan rapat di area hidung, mulut, dan dagu—harus dipastikan agar perlindungan maksimal tercapai. Tindakan pencegahan seperti menghindari aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan kondisi kesehatan pernapasan menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi ini.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gajian Jadi Waktu Tepat, Transmart Gelar Diskon Besar-besaran
Transmart menggelar Full Day Sale pada 25 Oktober 2026 dengan diskon hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit Bank Mega, Mega Syariah, dan Mandiri.
24 Oktober 2026

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026

Sepeda Listrik Diskon 50% di Transmart, Mulai Rp3,68 Juta
Transmart gelar diskon besar-besaran untuk sepeda listrik hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit tertentu, berlaku 25 Oktober 2025 di seluruh gerai.
24 Oktober 2026

BYAN Buka Suara Soal Transaksi Saham ke Jhonlin Baratama
Perseroan menyatakan belum ada perubahan pengendalian meski transaksi saham ke Jhonlin Baratama terjadi pada harga seragam Rp2.588 per saham.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pupuk Indonesia Dorong Ketahanan Pangan Lewat Irigasi Berkelanjutan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.06 WITA

Veloz Hybrid Puncaki Penjualan Hybrid di Indonesia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.05 WITA

BYD Atto 1 Kuasai Pasar Mobil Listrik September 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.05 WITA

LCGC Mulai Tergerus, Industri Tawarkan Solusi Hybrid
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Teknologi REEV Dorong Hemat BBM 65 Km Per Liter
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

BRI Perkuat Nilai Saham Lewat Buyback Rp1 Triliun
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

