Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menavigasi Kecerdasan Buatan dengan Nilai Kemanusiaan

Kecerdasan buatan memperluas kemampuan manusia, tetapi menuntut pemilihan bijak: menerima teknologi tanpa kehilangan identitas moral dan tanggung jawab.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 23.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Menavigasi Kecerdasan Buatan dengan Nilai Kemanusiaan
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Kecerdasan buatan kini mampu menyelesaikan tugas-tugas kompleks yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia, mulai dari menulis konten, menerjemahkan bahasa, hingga menciptakan seni visual dan musik. Kecepatan dan akurasi yang dimilikinya menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah manusia harus mengadopsi teknologi ini secara penuh, atau justru menolaknya demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan? Pertanyaan semacam ini bukan baru muncul. Di masa lalu, munculnya radio dan televisi juga memicu perdebatan serupa—ada yang menyambutnya sebagai kemajuan, ada pula yang menolak karena khawatir akan mengikis kearifan lokal dan nilai-nilai luhur.

Kini, teknologi informasi telah melampaui batas-batas sebelumnya. Tantangan bukan lagi soal menerima atau menolak, melainkan bagaimana manusia tetap mempertahankan peran sebagai penentu nilai, tujuan, dan tanggung jawab di tengah semakin besar pengaruh mesin. Dalam konteks ini, pengalaman budaya Indonesia menawarkan pelajaran berharga. Di era 1970-an, Rhoma Irama menghadapi dilema serupa: bagaimana tetap menjaga keislaman saat terlibat dalam industri musik modern yang dianggap berpotensi mengaburkan nilai moral?

Alih-alih menghindar dari teknologi dan media, Rhoma memilih untuk tetap berada di tengahnya. Ia tidak meninggalkan musik, bahkan memperluas jangkauannya melalui rekaman, tayangan televisi, dan film. Namun, di balik popularitasnya, ia menanamkan pesan moral, dakwah, dan refleksi keagamaan dalam karya-karyanya. Dengan begitu, ia menciptakan identitas baru: Soneta sebagai Voice of Moslem. Musik dangdut tetap menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan kritik sosial.

Konsep “musik bersih” yang muncul dari perjalanan ini bukan berarti menetapkan standar universal soal apa yang bermoral atau tidak. Yang lebih penting adalah penolakan terhadap anggapan bahwa karya seni bisa lepas dari tanggung jawab. Musik bersih adalah kesadaran bahwa setiap bentuk ekspresi budaya adalah bagian dari pertanggungjawaban manusia terhadap Tuhan dan sesama. Dengan demikian, teknologi—termasuk kecerdasan buatan—bisa diterima tanpa mengorbankan jati diri manusia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya