Menavigasi Kecerdasan Buatan dengan Nilai Kemanusiaan
Kecerdasan buatan memperluas kemampuan manusia, tetapi menuntut pemilihan bijak: menerima teknologi tanpa kehilangan identitas moral dan tanggung jawab.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 23.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 10x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Kecerdasan buatan kini mampu menyelesaikan tugas-tugas kompleks yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia, mulai dari menulis konten, menerjemahkan bahasa, hingga menciptakan seni visual dan musik. Kecepatan dan akurasi yang dimilikinya menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah manusia harus mengadopsi teknologi ini secara penuh, atau justru menolaknya demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan? Pertanyaan semacam ini bukan baru muncul. Di masa lalu, munculnya radio dan televisi juga memicu perdebatan serupa—ada yang menyambutnya sebagai kemajuan, ada pula yang menolak karena khawatir akan mengikis kearifan lokal dan nilai-nilai luhur.
Kini, teknologi informasi telah melampaui batas-batas sebelumnya. Tantangan bukan lagi soal menerima atau menolak, melainkan bagaimana manusia tetap mempertahankan peran sebagai penentu nilai, tujuan, dan tanggung jawab di tengah semakin besar pengaruh mesin. Dalam konteks ini, pengalaman budaya Indonesia menawarkan pelajaran berharga. Di era 1970-an, Rhoma Irama menghadapi dilema serupa: bagaimana tetap menjaga keislaman saat terlibat dalam industri musik modern yang dianggap berpotensi mengaburkan nilai moral?
Alih-alih menghindar dari teknologi dan media, Rhoma memilih untuk tetap berada di tengahnya. Ia tidak meninggalkan musik, bahkan memperluas jangkauannya melalui rekaman, tayangan televisi, dan film. Namun, di balik popularitasnya, ia menanamkan pesan moral, dakwah, dan refleksi keagamaan dalam karya-karyanya. Dengan begitu, ia menciptakan identitas baru: Soneta sebagai Voice of Moslem. Musik dangdut tetap menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan kritik sosial.
Konsep “musik bersih” yang muncul dari perjalanan ini bukan berarti menetapkan standar universal soal apa yang bermoral atau tidak. Yang lebih penting adalah penolakan terhadap anggapan bahwa karya seni bisa lepas dari tanggung jawab. Musik bersih adalah kesadaran bahwa setiap bentuk ekspresi budaya adalah bagian dari pertanggungjawaban manusia terhadap Tuhan dan sesama. Dengan demikian, teknologi—termasuk kecerdasan buatan—bisa diterima tanpa mengorbankan jati diri manusia.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Teknologi REEV Dorong Hemat BBM 65 Km Per Liter
Menteri Perindustrian soroti potensi kendaraan Range Extended Electric Vehicle yang mampu menempuh 65 km per liter BBM dan menjangkau 1.600 km dengan pengisian penuh.
24 Oktober 2026

Pendidikan AI untuk Kedaulatan Ekonomi di Era Digital
Integrasi pembelajaran kecerdasan buatan di perguruan tinggi menjadi kunci membangun sumber daya manusia unggul dan produktif dalam ekonomi global.
24 Oktober 2026

DTIIF 2026 Dorong Investasi Global di Sektor Teknologi Indonesia
Forum investasi teknologi global DTIIF 2026 akan digelar di Jakarta, menawarkan peluang kolaborasi di enam sektor strategis dengan fokus pada ekosistem berbasis sumber daya dan inovasi.
24 Oktober 2026

Teknologi Baru Percepat Pemulihan Terumbu Karang yang Memutih
Penelitian terbaru menemukan metode alami mempercepat pemulihan terumbu karang yang memutih melalui kontak fisik dengan individu sehat dari klon yang sama.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

