Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mengapa Tuyul Tak Pernah Mencuri di Bank?

Asal mula legenda tuyul terkait ketidakmampuan pedagang kaya mempertanggungjawabkan kekayaannya, yang memicu persepsi masyarakat bahwa mereka bersekutu dengan makhluk halus.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mengapa Tuyul Tak Pernah Mencuri di Bank?📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Legenda tuyul yang sering dikaitkan dengan pencurian uang di rumah tidak pernah muncul dalam konteks perbankan, meski tidak ada catatan kehilangan dana dari lembaga keuangan akibat makhluk tersebut. Kebanyakan asumsi tentang alasan ini bersifat spekulatif, seperti keyakinan bahwa tuyul takut logam atau terhalang oleh perlindungan halus di bank. Namun, penelitian sejarah menawarkan penjelasan yang lebih dalam, berakar pada transformasi ekonomi di Jawa pada abad ke-19.

Pada 1870, Belanda menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi yang menggantikan sistem tanam paksa. Kebijakan ini diperkenalkan sebagai langkah menuju kesejahteraan rakyat, tetapi justru berdampak negatif bagi petani kecil. Berdasarkan analisis sejarawan seperti Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks, sistem baru mempercepat pengambilalihan lahan perkebunan rakyat untuk dijadikan perkebunan besar dan pabrik gula, yang menyebabkan kemiskinan meluas di kalangan petani.

Sementara itu, para pedagang—baik pribumi maupun Tionghoa—menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kekayaan mereka tumbuh secara pesat tanpa transparansi proses akumulasi. Berbeda dengan petani yang bercocok tanam untuk kebutuhan hidup sendiri, para pedagang tidak bisa menunjukkan proses kerja keras yang terlihat oleh masyarakat. Kekayaan mereka muncul secara tiba-tiba, tanpa jejak usaha yang bisa dibuktikan.

Karena tidak bisa mempertanggungjawabkan asal usul kekayaannya, para pedagang menjadi sasaran kecurigaan. Masyarakat yang hidup dalam kerangka kepercayaan mistik mulai menuduh mereka bersekutu dengan makhluk halus, termasuk tuyul, sebagai penjelasan atas kekayaan yang tak terlihat prosesnya. Fenomena ini menyebar luas dan membentuk narasi bahwa kekayaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan adalah hasil dari kerja sama dengan dunia gaib.

Dampaknya, legenda tuyul pun berkembang sebagai simbol dari kekayaan yang didapat secara tidak terlihat dan tak bisa dibuktikan. Masyarakat pun menghindari bentuk perayaan kekayaan, seperti membeli tanah atau rumah, karena dianggap bisa menarik perhatian makhluk halus. Dalam konteks ini, tuyul bukan sekadar makhluk pencuri, tetapi juga cerminan dari ketimpangan sosial dan kepercayaan kolektif terhadap kekayaan yang tak terduga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya