Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menkes Gunakan Oksigen untuk Edukasi, Bantah Gangguan Napas

Kemenkes membantah isu Menkes mengalami sesak napas saat kunjungan ke Palangka Raya, menegaskan penggunaan oksigen murni sebagai bagian edukasi layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak asap.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 17.35 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Menkes Gunakan Oksigen untuk Edukasi, Bantah Gangguan Napas📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dikabarkan mengalami kesulitan pernapasan saat melakukan kunjungan kerja ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang memicu perbincangan luas di media sosial. Foto yang menunjukkan dirinya menggunakan alat oksigen menjadi viral, menyebabkan munculnya berbagai spekulasi terkait kondisi kesehatannya. Namun, Kementerian Kesehatan secara resmi membantah narasi tersebut, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan karena gangguan medis.

Menurut keterangan resmi dari Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, penggunaan fasilitas oksigen dilakukan dalam konteks edukasi publik. Menkes hadir untuk memperkenalkan layanan kesehatan yang tersedia bagi warga yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Penggunaan oksigen dalam momen itu disengaja sebagai cara menunjukkan aksesibilitas fasilitas kesehatan yang telah disediakan.

Selama kunjungan, Menkes juga memanfaatkan masker KN95 sebagai upaya proteksi pribadi. Ia disebut aktif bergerak dan berinteraksi dengan masyarakat tanpa menunjukkan tanda-tanda sesak napas. Fasilitas yang diperkenalkan meliputi Rumah Oksigen milik Muhammadiyah Disaster Management Center dan Bus Oksigen dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, yang dirancang untuk menangani kasus gangguan pernapasan akibat polusi udara.

Kemenkes menyerukan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak diverifikasi. Pihaknya menekankan pentingnya memahami konteks sebelum menyebarkan narasi yang bisa menyesatkan. Upaya bersama dalam menangani dampak karhutla harus didukung dengan data akurat dan kerja sama lintas sektor, bukan oleh isu yang mengaburkan fakta.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya