Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mentan Amran Raih Skor Tertinggi dalam Evaluasi Kinerja Kabinet

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meraih skor tertinggi 91 dalam penilaian kinerja kabinet, menunjukkan efektivitas kebijakan sektor pertanian berbasis data dan hasil nyata.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mentan Amran Raih Skor Tertinggi dalam Evaluasi Kinerja Kabinet
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berhasil meraih skor tertinggi 91 dalam evaluasi kinerja kabinet yang dilakukan oleh lembaga riset kebijakan publik, menempatkannya sebagai pemimpin kementerian dengan pencapaian terbaik di antara sepuluh menteri yang dinilai. Skor ini mengungguli rekan-rekannya, termasuk Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani yang mendapat 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan 87, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin masing-masing meraih 86 dan 85. Penilaian ini tidak didasarkan pada tingkat eksposur media atau popularitas, melainkan pada realisasi konkret kebijakan yang dapat diukur dan diverifikasi secara objektif.

Evaluasi dilakukan melalui pendekatan *Evidence-Based Government Performance Evaluation* dengan metode *Multi-Criteria Decision Analysis* (MCDA), yang menekankan pada bukti empiris daripada persepsi publik. Menurut pendiri dan peneliti senior lembaga tersebut, Denny Charter, kinerja seorang menteri tidak bisa diukur dari jumlah berita yang muncul di media, melainkan dari sejauh mana kebijakan yang diterapkan menghasilkan dampak nyata. Ia menegaskan bahwa popularitas dan kinerja adalah dua hal yang berbeda, dan perlu dipisahkan dalam penilaian kinerja pemerintahan.

Penilaian mencakup enam dimensi utama dengan bobot berbeda: *Policy Output* (20 persen), *Policy Outcome* (25 persen), *Implementation Effectiveness* (20 persen), *Public and Economic Impact* (15 persen), *Policy Innovation* (10 persen), serta *Intergovernmental Coordination* (10 persen). Dimensi *Policy Outcome* menjadi penentu utama karena menilai perubahan substantif yang dihasilkan kebijakan. Dalam konteks Kementerian Pertanian, evaluasi mengacu pada indikator sektoral seperti produksi pangan, stok pangan, dan produktivitas pertanian, yang semuanya dapat diverifikasi melalui data resmi.

Pencapaian kinerja ini didukung oleh berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan sistem irigasi dan pompanisasi, distribusi benih unggul, mekanisasi pertanian, penyediaan pupuk, serta percepatan masa tanam dan peningkatan produktivitas di lapangan. Hasilnya terlihat dari peningkatan produksi pangan yang konsisten, stabilitas stok, dan peningkatan kesejahteraan petani. Evaluasi ini menegaskan bahwa kinerja sektor pertanian dinilai sangat transparan dan berbasis data, sehingga mampu menunjukkan perubahan nyata dalam sistem pangan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya