Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menteri Israel Ancam Eksekusi Tahanan Palestina di Media Sosial

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengancam akan mengeksekusi tahanan Palestina Hassan Salameh jika menjabat menteri pertahanan, lewat unggahan video di media sosial.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 17.31 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Menteri Israel Ancam Eksekusi Tahanan Palestina di Media Sosial📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben Gvir, mengungkapkan niatnya untuk mendorong hukuman mati terhadap tahanan Palestina jika terpilih sebagai menteri pertahanan dalam pemerintahan berikutnya. Ancaman tersebut disampaikan melalui unggahan di platform media sosial X, yang menampilkan rekaman langsung saat ia berhadapan dengan mantan komandan Brigade Al Qassam, Hassan Salameh, di dalam penjara.

Dalam rekaman tersebut, Ben Gvir secara tegas menyatakan keinginannya untuk membunuh Salameh, menegaskan, “Saya ingin membunuh Anda. Saya ingin mengeksekusi Anda.” Pernyataan itu disertai dengan sikap tegas dan nada ancaman yang menimbulkan kecaman internasional. Salameh, yang telah dihukum seumur hidup 46 kali secara berturut-turut sejak ditangkap pada 1996, diduga mengkoordinasikan tiga serangan bom di Israel yang menewaskan sekitar 46 orang menurut otoritas Tel Aviv.

Selain ancaman eksekusi, Ben Gvir juga menyatakan dukungan terhadap gagasan "migrasi sukarela" bagi warga Palestina di wilayah Gaza dan Tepi Barat. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai solusi untuk menyelesaikan konflik, meskipun usulan itu telah ditolak oleh berbagai kelompok Palestina serta negara-negara Arab. Pernyataan ini menegaskan kembali sikap keras yang selama ini dianut oleh partainya, Jewish Power, yang menuntut posisi menteri pertahanan dan kehakiman sebagai syarat bergabung dalam koalisi pemerintah.

Pemilihan umum Knesset Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang. Dalam konteks tersebut, pernyataan Ben Gvir menjadi sorotan karena memperlihatkan kebijakan yang berpotensi memperkeruh ketegangan di wilayah konflik. Ancaman dan kebijakan yang diusungnya mencerminkan pendekatan represif terhadap tahanan Palestina serta rencana pergeseran penduduk yang kontroversial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya