Menyapu Abu Vulkanik Bisa Picu Risiko Kesehatan
Menyapu abu vulkanik secara kering justru memperbesar risiko paparan partikel halus ke saluran napas dan mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Ketika abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah, banyak warga langsung melakukan pembersihan lantai dengan menyapu. Namun, tindakan tersebut justru berpotensi membahayakan kesehatan. Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menegaskan bahwa menyapu permukaan yang tertutup abu dalam kondisi kering dapat mengakibatkan partikel kembali terbang ke udara, sehingga meningkatkan paparan terhadap debu halus.
Partikel abu vulkanik yang halus dan tajam dapat dengan mudah tersuspensi kembali ke atmosfer saat disapu, meskipun lantai tampak bersih secara visual. Ini berarti udara di sekitar area tersebut tetap terkontaminasi, dan risiko terhirup abu justru lebih tinggi daripada sebelumnya. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang sudah memiliki gangguan pernapasan kronis.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), abu vulkanik mengandung silika kristalin yang dalam paparan jangka panjang dapat menyebabkan iritasi paru-paru dan bahkan gangguan pernapasan permanen. Oleh karena itu, metode pembersihan yang mengandalkan sapu kering tidak direkomendasikan, karena justru memperparah penyebaran partikel berbahaya.
Solusi yang lebih aman adalah menggunakan kain lembap, pel basah, atau vacuum cleaner dengan filter HEPA yang mampu menangkap partikel halus. Untuk area luar, penyapuan tetap bisa dilakukan, tetapi dengan syarat permukaan dibasahi terlebih dahulu agar abu tidak terbang. Jika lapisan abu cukup tebal, sebaiknya dibasahi secara merata sebelum dibersihkan secara menyeluruh.
Dengan pendekatan pembersihan yang tepat, risiko kesehatan akibat abu vulkanik dapat diminimalkan. Masyarakat diminta untuk menghindari kebiasaan menyapu kering dan beralih ke metode yang lebih aman dan efektif untuk melindungi diri dan lingkungan sekitar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


