Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Minuman Panas Tingkatkan Risiko Kanker Kerongkongan

Studi besar menemukan konsumsi minuman sangat panas meningkatkan risiko kanker kerongkongan hingga 3,17 kali, terutama jika dikonsumsi lebih dari enam gelas sehari.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.05 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 92x dibuka
Minuman Panas Tingkatkan Risiko Kanker Kerongkongan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah penelitian terbesar yang melibatkan lebih dari 977 ribu peserta di Inggris mengungkap kaitan antara suhu minuman dan risiko kanker kerongkongan. Hasil analisis dari dua studi besar, yaitu Million Women Study dan UK Biobank, menunjukkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi minuman dengan suhu di atas 65 derajat Celsius berisiko lebih tinggi mengalami karsinoma sel skuamosa kerongkongan (SCC) dibanding mereka yang memilih minuman hangat. Temuan ini diterbitkan dalam International Journal of Cancer dan menjadi dasar bagi peringatan medis terkait kebiasaan minum.

Berdasarkan klasifikasi dari International Agency for Research on Cancer (IARC), minuman yang disajikan pada suhu sangat panas dikategorikan sebagai zat yang "kemungkinan bersifat karsinogenik". Risiko terkena SCC meningkat signifikan pada mereka yang mengonsumsi minuman panas lebih dari enam kali sehari, dengan peningkatan risiko hingga 71 persen dibanding yang minum kurang dari jumlah tersebut. Angka ini menekankan pentingnya memperhatikan suhu minuman, bukan hanya jenis atau jumlah yang dikonsumsi.

Meskipun penelitian tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung, para peneliti menekankan bahwa perubahan kebiasaan minum bisa menjadi langkah pencegahan efektif. Dengan asumsi adanya kausalitas, diperkirakan sekitar 14 persen kasus SCC esofagus bisa dihindari jika individu beralih dari minuman sangat panas ke suhu panas. Ini menjadi rekomendasi penting bagi masyarakat yang memiliki kebiasaan minum teh atau kopi dalam suhu ekstrem.

Kendati demikian, data suhu minuman dalam penelitian didasarkan pada laporan subjektif peserta, sehingga tidak selalu mencerminkan suhu aktual saat dikonsumsi. Hal ini menekankan perlunya kesadaran pribadi dalam menyesuaikan suhu minuman, terutama bagi mereka yang rutin mengonsumsi minuman panas setiap hari. Upaya pencegahan melalui perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya