Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

New York Larang AI di Sekolah Dasar dan Menengah Pertama

Wali Kota New York memperkenalkan moratorium satu tahun terhadap penggunaan kecerdasan buatan di jenjang pendidikan dasar hingga SMP, menargetkan 600 ribu siswa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 15.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
New York Larang AI di Sekolah Dasar dan Menengah Pertama
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengumumkan kebijakan pelarangan sementara penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam aktivitas belajar di sekolah dasar hingga kelas delapan mulai tahun ajaran mendatang. Keputusan ini berlaku selama satu tahun dan menekankan perlunya perlindungan terhadap perkembangan kognitif anak usia dini dari pengaruh teknologi yang belum teruji manfaatnya secara independen. Kebijakan ini menjangkau sekitar dua pertiga dari total siswa di sekolah negeri kota tersebut, mencakup jenjang 2-K hingga kelas delapan.

Mamdani menegaskan bahwa kebijakan ini muncul dari kekhawatiran terhadap eksploitasi data anak oleh perusahaan teknologi besar. Ia menyoroti kurangnya bukti ilmiah yang mendukung efektivitas AI dalam pendidikan anak usia sekolah dasar dan menengah, terutama ketika penelitian yang ada didanai oleh industri yang berkepentingan. “Orang tua berhak tahu bahwa anak-anak mereka tidak menjadi objek eksperimen digital demi keuntungan korporat,” tegasnya dalam konferensi pers di Brooklyn.

Sebanyak 38 program pendidikan berbasis AI akan segera dinonaktifkan jika tidak memenuhi standar keamanan dan transparansi baru, termasuk aplikasi bimbingan belajar seperti Amira yang menggunakan AI sebagai tutor membaca. Selain itu, perangkat digital pribadi akan dibatasi penggunaannya di kelas: dilarang untuk siswa prasekolah hingga kelas dua, dan dibatasi maksimal 30 menit per hari untuk kelas tiga hingga lima, serta 45 menit untuk SMP.

Untuk siswa SMA, pemerintah kota tetap membuka ruang eksplorasi terkendali melalui lima proyek percontohan yang melibatkan maksimal 50 ribu peserta, atau sekitar 5 persen dari total populasi siswa. Semua siswa SMA juga akan mengikuti pelatihan literasi AI dua kali setahun. Pengecualian diberikan untuk teknologi bantu penyandang disabilitas, pembelajaran bahasa Inggris, serta kegiatan pemrograman dan bahan ajar digital.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya