Orang Tua China Bayar Rp26 Juta Biayai Anak Latih Hidup Susah
Sejumlah orang tua di China rela mengeluarkan dana hingga Rp26 juta untuk mendaftarkan anak ke kamp musim panas yang menekankan pengalaman kerja kasar demi menumbuhkan rasa syukur dan pemahaman atas kesulitan hidup.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Banyak orang tua di wilayah barat daya Tiongkok, termasuk di provinsi Sichuan, Guizhou, dan Yunnan, kini memilih mengirim anak-anak mereka ke program khusus selama musim panas yang menawarkan pengalaman kerja fisik berat. Biaya untuk program satu bulan mencapai lebih dari 10.000 yuan atau setara Rp26 juta, yang mencakup akomodasi, makan, serta aktivitas lapangan seperti menggali kentang, memotong kayu, dan memberi pakan ternak. Tujuan utamanya adalah memberi anak kesadaran tentang realitas pekerjaan yang melelahkan dan nilai dari setiap upaya mencari nafkah.
Peserta kamp diwajibkan menjalani aturan ketat selama masa program. Mereka harus menyelesaikan tugas harian, dan jika gagal, bisa diberi hukuman hanya makan kentang sepanjang hari. Ponsel mereka juga disita untuk meminimalisir gangguan dari dunia digital, sementara kebutuhan pokok seperti makanan dan air hanya diberikan sesuai hasil kerja yang dicapai. Program ini dilakukan selama 10 hari hingga satu bulan, dengan tarif mulai dari 4.000 yuan (sekitar Rp10 juta) untuk masa singkat.
Beberapa video yang tersebar menunjukkan reaksi emosional anak-anak, seperti menangis dan memohon untuk pulang karena merasa tidak mampu menanggung beban fisik. Beberapa bahkan menyatakan lebih memilih mengerjakan pekerjaan rumah daripada bertani. Sebagian peserta diminta menulis surat kepada orang tua tentang pengalaman mereka, yang kemudian menjadi bahan refleksi mendalam bagi orang tua yang menyaksikannya. Banyak dari mereka merasa tersentuh dan justru mempromosikan program ini ke sesama orang tua.
Panitia pelaksana menegaskan bahwa tujuan kamp bukan untuk menekan anak secara berlebihan, melainkan memberi pengalaman nyata yang bisa menjadi dasar nilai hidup. Mereka menekankan bahwa aktivitas tidak dirancang secara ekstrem, tetapi cukup untuk membuka mata anak terhadap kesulitan yang dihadapi oleh para pekerja di sektor pertanian dan perkebunan. Meski demikian, sejumlah netizen mempertanyakan dampak jangka panjang dari aktivitas berat ini terhadap perkembangan fisik dan psikologis anak, mengingat banyak anak hanya terbiasa dengan lingkungan perkotaan dan pendidikan formal.
Kegiatan ini mendapat respons beragam di media sosial. Banyak yang mendukung karena dianggap penting untuk menumbuhkan rasa syukur dan menghindari sikap boros atau sembrono dalam kehidupan. Namun, sebagian lain menekankan perlunya keseimbangan agar tidak menimbulkan trauma atau kelelahan berlebihan. Inti dari program tetap pada pesan bahwa menghadapi tantangan kecil secara langsung bisa menjadi cara efektif untuk mengajarkan anak-anak menghargai kehidupan yang nyaman.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Digitalisasi Manajemen ASN Kemenkum 2027, Otomatisasi Pengawasan Kinerja
Transformasi digital layanan kepegawaian Kemenkum akan menyeluruh pada 2027, dengan integrasi SIMPEG dan SATRIA BMN untuk otomatisasi pemantauan kinerja ASN dan penegakan disiplin.
11 Oktober 2026

Ledakan Guncang Bandara Riyadh, Penerbangan Dibatalkan
Ledakan keras terjadi di Bandara Internasional Riyadh, menyebabkan evakuasi, pembatalan penerbangan, dan penutupan sementara akibat kekhawatiran keamanan.
11 Oktober 2026

Taiwan Perkuat Pertahanan demi Cegah Konflik Militer
Presiden Lai Ching-te menegaskan peningkatan anggaran pertahanan sebesar NT$1,1 triliun sebagai langkah preventif, bukan provokatif, untuk menjaga stabilitas di tengah tekanan dari China.
10 Oktober 2026

Pengusaha Daerah Dilibatkan Jadi Pemain Utama dalam Rantai Biomassa PLN
PLN EPI mengajak pelaku usaha lokal mengolah limbah dan sampah menjadi bahan bakar bernilai ekonomi melalui pengembangan rantai pasok biomassa yang inklusif.
10 Oktober 2026
Berita Lainnya

Prabowo Dorong 100 Kampung Nelayan Siap Operasional Akhir 2026
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.30 WITA

Dedi Congor Absen Pemeriksaan KPK karena Sakit, Penyidik Jadwalkan Ulang
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Sewa Bong dan Lapak Narkoba di Dua Kampung di Jakarta Barat
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Dua Tersangka Pembunuhan di Jaktim Diamankan Polisi
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Jakarta Ungguli New York dalam Tata Kelola Transportasi
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.28 WITA

22 Penyu Hijau Gagal Diselundupkan di Perairan Serangan
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.27 WITA

Malaysia Naikkan Upah Minimum ke Rp8,7 Juta Mulai 2027
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.27 WITA

Bandung Jadi Pusat Pelatihan PMI Terampil untuk Pasar Jepang
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.26 WITA

