Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Orangutan Sempurna Meninggal Dunia Akibat Asap Karhutla di Kalimantan Barat

Kematian orangutan bernama Sempurna di Ketapang, Kalimantan Barat, dikonfirmasi Kementerian Kehutanan akibat paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 08.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Orangutan Sempurna Meninggal Dunia Akibat Asap Karhutla di Kalimantan Barat
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Kehutanan telah mengonfirmasi kematian satu individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Sempurna yang ditemukan dalam kondisi kritis akibat gangguan pernapasan di wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penyebab kematiannya diduga kuat akibat paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Sempurna, yang sebelumnya menjadi perhatian publik karena kondisinya yang memprihatinkan, tidak mampu bertahan meski telah diberikan upaya medis.

Kegagalan pendaratan pesawat yang membawa Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Bandara Supadio, Kubu Raya, juga menjadi sorotan. Hal ini terjadi karena kabut asap tebal akibat karhutla menyelimuti area bandara, menghambat operasional penerbangan dan memperparah akses ke daerah terdampak. Kejadian tersebut menunjukkan skala dan dampak lingkungan yang signifikan dari kebakaran lahan yang terjadi secara masif di wilayah tersebut.

Di sisi lain, di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, proses pemulihan pasca-bencana kebakaran mulai dilakukan dengan tradisi Nyemulak, yaitu upacara penanaman tiang pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kembali Rumah Adat Sasak dan Masjid Sade di Desa Rambitan. Upacara ini menjadi simbol kebangkitan budaya dan ketahanan masyarakat setempat pasca-kebakaran yang menghanguskan struktur adat utama.

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga tengah melakukan penilaian kebutuhan bersama di wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan prioritas bantuan dan memastikan distribusi bantuan tepat sasaran. Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional mengakui terjadinya keracunan akibat Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo disebabkan kelalaian petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya