Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

PBB Soroti Kekerasan di Tepi Barat dan Krisis Kemanusiaan Gaza

PBB mengecam pembunuhan dua warga sipil Palestina di Tepi Barat dan mendesak Israel bertanggung jawab atas kekerasan berkelanjutan, sementara kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 11.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
PBB Soroti Kekerasan di Tepi Barat dan Krisis Kemanusiaan Gaza
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas terbunuhnya dua warga sipil Palestina, Omar al-Naasan (19) dan Khalil Shehada (16), di desa Al-Mughayyir di Tepi Barat yang diduduki. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menekankan bahwa peristiwa tersebut merupakan bentuk kekerasan ekstrem terhadap warga tidak bersenjata dan menegaskan bahwa pembunuhan semacam ini tidak dapat dibenarkan dalam konteks hukum internasional. Ia menyerukan agar otoritas Israel segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil dan memastikan pertanggungjawaban bagi pelaku kekerasan.

Kekerasan yang terus berlangsung oleh pihak pendudukan, menurut Dujarric, telah merusak kehidupan sehari-hari warga Palestina, termasuk harta benda dan akses ke layanan dasar. Ia menekankan bahwa Israel sebagai otoritas yang bertanggung jawab harus memenuhi kewajibannya untuk melindungi warga sipil dan menegakkan hukum. Pernyataan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya PBB untuk menekan eskalasi konflik dan mendorong transparansi dalam penanganan kasus-kasus kekerasan yang melibatkan militer pendudukan.

Di Gaza, situasi kemanusiaan tetap mengkhawatirkan. Tim PBB telah mengumpulkan ratusan paket bantuan melalui pos perbatasan Kerem Shalom, termasuk popok dewasa, alat sekolah, serta makanan untuk bayi dan anak-anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sejak Oktober 2023, lebih dari 13.000 pasien telah dievakuasi secara medis dari Gaza, termasuk lebih dari 6.000 anak. Namun, ribuan lainnya masih membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

WHO mendesak agar jalur rujukan medis ke Yerusalem Timur dan tempat lain di Tepi Barat segera dibuka kembali, serta agar ambulans dan peralatan medis yang kini diblokir oleh otoritas Israel diizinkan masuk. Kepala Urusan Kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina, Muhannad Hadi, menekankan bahwa persiapan menghadapi musim hujan dan dingin menjadi prioritas utama, yang hanya bisa tercapai dengan dukungan donor dan pencabutan pembatasan terhadap peralatan penting.

Di Lebanon, UNIFIL melaporkan peningkatan kekerasan pada bulan Agustus, termasuk 84 proyektil Israel pada 2 September, meningkat dari 56 proyektil sehari sebelumnya. Hingga kini, tidak ditemukan peluncuran proyektil dari pihak Hizbullah sejak 21 Juni. PBB kembali menyerukan agar pasukan Israel menarik diri dari posisi di utara Garis Biru, sebagai bentuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan 1701 serta menjaga kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya