Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pelni Ungkap Kebutuhan 1.000 Kapal untuk Perkuat Ekspor Antarpulau

Pelni menyoroti perlunya hampir seribu kapal untuk memperkuat konektivitas antarpulau dan mendukung distribusi logistik nasional secara teratur.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 19.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pelni Ungkap Kebutuhan 1.000 Kapal untuk Perkuat Ekspor Antarpulau
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar seribu kapal untuk menopang konektivitas antarpulau secara optimal, terutama dalam mendukung distribusi komoditas dari sentra produksi ke wilayah tujuan. Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut Pelni, Hana Suhardi, menegaskan bahwa kebutuhan kapal tersebut merupakan kunci untuk menciptakan pola pelayaran yang teratur dan berjadwal rutin, yang pada gilirannya memberi kepastian bagi pelaku usaha dalam pengiriman barang.

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau menjadikan transportasi laut sebagai tulang punggung logistik nasional. Namun, Hana mengungkapkan masih terjadi ketimpangan muatan, terutama antara wilayah barat dengan wilayah tengah dan timur. Banyak komoditas dari daerah sentra produksi di wilayah timur belum bisa diekspor secara maksimal karena keterbatasan kapal dan jadwal pelayaran yang tidak terencana.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Pelni mengusulkan penerapan model hub and spoke, di mana komoditas dari berbagai daerah dikonsolidasikan terlebih dahulu menuju pelabuhan pusat ekspor sebelum dikirim ke pasar global. Tujuh pelabuhan telah ditetapkan sebagai sentra ekspor atau Indonesian Gateway, termasuk Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, Bitung, Sorong, Kuala Tanjung, dan Kijing. Kunci keberhasilan model ini, menurut Hana, adalah memastikan pelabuhan utama memiliki volume muatan yang cukup untuk menjaga efisiensi operasional kapal.

Ia menekankan bahwa kepastian jadwal pelayaran menjadi faktor penentu dalam menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekspor. Dengan sistem yang terjadwal dan teratur, pelaku usaha dapat merencanakan pengiriman secara lebih akurat. Hana menilai bahwa penguatan konektivitas laut bukan hanya soal jumlah kapal, tetapi juga sistem yang terintegrasi, sehingga nilai tambah produk lokal dapat diwujudkan melalui distribusi yang cepat dan efisien ke pasar internasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya