Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Usulkan Kuota Solar Subsidi 2027 Naik Jadi 19 Juta KL

Pemerintah mengusulkan kenaikan kuota solar subsidi tahun 2027 menjadi 19 juta kiloliter untuk menjaga aksesibilitas energi di sektor strategis dan wilayah terdampak.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 10.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pemerintah Usulkan Kuota Solar Subsidi 2027 Naik Jadi 19 Juta KL
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengusulkan peningkatan volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027 sebesar 19,561 juta kiloliter. Rinciannya mencakup solar subsidi sebesar 19 juta KL dan minyak tanah sebanyak 0,561 juta KL, mengalami kenaikan dibandingkan realisasi tahun 2026 yang mencapai 18,64 juta KL untuk solar dan 0,53 juta KL untuk minyak tanah.

Peningkatan ini didasarkan pada analisis terhadap realisasi penyaluran dan proyeksi kebutuhan masyarakat yang terus tumbuh, khususnya di sektor transportasi, pertanian, perikanan, serta layanan publik. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil perhitungan yang matang guna menjaga ketersediaan energi yang terjangkau bagi masyarakat.

Pemerintah juga mempertahankan besaran subsidi solar sebesar Rp 1.000 per liter, sama seperti tahun berjalan. Keputusan ini diambil untuk menstabilkan harga jual eceran dan mencegah dampak lanjutan terhadap biaya produksi di sektor-sektor vital, termasuk transportasi darat, perkeretaapian, dan aktivitas usaha mikro. Dengan harga tetap, diharapkan tidak terjadi lonjakan biaya yang berdampak pada inflasi dan kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan alokasi minyak tanah ditujukan khusus untuk wilayah Indonesia Timur seperti Maluku, Papua, dan sebagian wilayah Sulawesi, di mana penggunaannya masih dominan. Pemerintah menilai kenaikan kuota tersebut sebagai bentuk keadilan sosial, karena masyarakat di daerah tersebut belum sepenuhnya beralih ke alternatif energi lain. Upaya ini diharapkan mempercepat akses energi bersih sambil tetap menjaga keberlanjutan konsumsi energi di daerah terpencil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya