Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penanganan Rumah Ibadah Rusak Akibat Gempa Flores Dilakukan dengan Pendekatan Lokal

Kementerian PU menangani kerusakan rumah ibadah di Flores berdasarkan hasil pemeriksaan struktural, dengan melibatkan masyarakat dan menjaga kearifan lokal dalam proses pemulihan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 09.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Penanganan Rumah Ibadah Rusak Akibat Gempa Flores Dilakukan dengan Pendekatan Lokal
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Pekerjaan Umum melakukan langkah strategis dalam penanganan kerusakan rumah ibadah akibat gempa bumi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Pendekatan yang diambil menekankan pada keselamatan, kebutuhan pengguna, serta kearifan lokal masyarakat setempat. Proses ini dilandasi arahan langsung dari Menteri PU yang menekankan pentingnya keterlibatan pihak-pihak terkait dalam setiap tahapan pemulihan bangunan.

Pemeriksaan terhadap Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, mengungkapkan kondisi bangunan yang kritis. Dua dari tiga struktur utama—gedung peribadatan dan aula—dinyatakan tidak aman akibat kerusakan struktural, sehingga perlu pembongkaran. Sementara rumah pastoran tetap layak digunakan. Proses pembongkaran dilakukan secara kolektif oleh jemaat bersama bantuan aparat keamanan, sambil tetap mempertahankan tradisi adat melalui ritual Cear Di'a sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.

Di sisi lain, Masjid Nurul Huda Reo di Kabupaten Manggarai juga mengalami kerusakan signifikan. Meski struktur utama masih berdiri, sejumlah elemen mengalami kerusakan parah, termasuk plafon yang rusak hingga 60 persen dan dinding dengan retakan lebih dari 6 milimeter. Kolom pada level III dan IV menunjukkan kerusakan sebesar 3,125 persen dan 4,67 persen, sementara menara mengalami kerusakan berat dan sebagian runtuh. Berdasarkan klasifikasi, bangunan dikategorikan rusak sedang, dengan rekomendasi pembongkaran total menara dan perbaikan struktural secara menyeluruh.

Penanganan kedua lokasi ini dilakukan melalui pendekatan rancang bangun oleh Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTT, dengan kajian mendalam terhadap kondisi eksisting. Proses perencanaan melibatkan pengurus rumah ibadah secara langsung, memastikan bahwa bangunan baru nantinya tidak hanya aman, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan jemaat dan identitas budaya lokal. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya komprehensif dalam pemulihan infrastruktur publik pasca-bencana.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya