Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penggunaan Ilegal Ketamin Meningkat, Korban Muda Mengalami Kerusakan Serius

Penggunaan ketamin ilegal yang meluas di kalangan remaja menimbulkan dampak kesehatan parah, termasuk kerusakan kandung kemih dan kehilangan fungsi sosial, sebagaimana diungkapkan oleh korban yang kini menjalani rehabilitasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 29x dibuka
Penggunaan Ilegal Ketamin Meningkat, Korban Muda Mengalami Kerusakan Serius📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penggunaan ketamin secara ilegal kini menunjukkan tren meningkat tajam, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda. Di Indonesia, pada bulan Oktober, aparat gabungan berhasil menggagalkan penyelundupan seberat satu ton ketamin ilegal yang dibawa kapal MT Global 108. Sebelumnya, pada Agustus, telah terjadi pengungkapan serupa dengan jumlah yang lebih besar, yakni 1,3 ton, bernilai diperkirakan Rp4,55 triliun. Kedua kasus menunjukkan skala peredaran obat yang seharusnya hanya digunakan secara medis tetapi kini digunakan untuk tujuan rekreasi.

Ketamin, yang secara medis digunakan sebagai anestesi dan terapi untuk depresi, jika digunakan di luar dosis dan tanpa pengawasan, dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti saraf, jantung, ginjal, hati, hingga sistem pernapasan. Di banyak negara, termasuk Inggris, ketamin telah dikelompokkan sebagai obat terlarang karena potensi penyalahgunaannya yang tinggi. Di sana, jumlah pengguna ilegal pada usia 16 hingga 59 tahun diperkirakan mencapai 264.000 orang, sementara fasilitas rehabilitasi melaporkan lonjakan tajam kasus rujukan akibat penggunaan obat ini.

Salah satu korban, Megan, mengungkapkan pengalaman pahit yang menimpa dirinya sejak usia 14 tahun. Ia mulai mengonsumsi ketamin sebagai pelarian dari gejala ADHD dan gangguan kepribadian batas. Dalam kondisi terburuk, ia mengonsumsi obat tersebut sepanjang hari. Akibatnya, ia kehilangan pekerjaan magang, mengalami gangguan fisik parah, hingga harus menggunakan pembalut khusus karena kerusakan kandung kemih. Pada usia 22 tahun, kondisinya begitu parah hingga merasa kehilangan harga diri dan tidak lagi peduli pada kehidupan.

Setelah empat minggu menjalani rehabilitasi, Megan merasakan perbaikan fisik dan mental. Ia kini merasa lebih aktif dan sadar kembali terhadap dirinya sendiri. Meski belum mengetahui seberapa besar kerusakan permanen pada organ kandung kemih, ia menyatakan bahwa tubuhnya mulai pulih dan berat badannya kembali stabil. Ia kini memilih untuk hidup lebih baik dan tidak ingin mati, berbeda dari masa-masa ketika ia kehilangan harapan.

Fasilitas rehabilitasi seperti Birchwood milik organisasi amal Kaleidoscope mencatat lonjakan drastis kasus ketergantungan ketamin, dari hanya dua kasus pada 2021 menjadi 112 kasus hingga Januari tahun ini. Mayoritas korban berusia antara 18 hingga 24 tahun, sebagian besar terpapar karena akses mudah dan harga yang rendah. Faktor seperti masa lockdown dan pola kerja shift malam juga memperparah kecanduan. Kini, layanan rehabilitasi harus beradaptasi dengan kebutuhan khusus generasi muda, termasuk dukungan bagi keluarga dan intervensi dini.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya